Langsung ke konten utama

Kejutan dari Korona




Sebuah virus dari negeri seberang mengguncang dunia sejak akhir Pebruari lalu. Awalnya banyak yang meremehkan, bahkan meyakini bahwa virus bernama cantik ini tak akan mampir ke negara mereka.

Kenyataannya, Korona kini menyebar hingga ke penjuru dunia. Cara para negara menyambutnya pun berbeda-beda. Ada yang telah siap dengan ragam kebijakan dan stok pasokan untuk segala lini. Ada pula yang masih kelabakan dan tidak siap menghadapi.

*

Di Indonesia sendiri, kelangkaan hand sanitizer dan masker terjadi sejak awal kedatangan Korona. Dua barang ini mendadak berharga sangat tinggi di pasaran. Satu persatu pasien bermunculan, baik yang disebut ODP, PDP, hingga akhirnya benar-benar terserang Korona.

Mulai akhir Maret lalu, pemerintah Indonesia pun menerapkan kebijakan Physical dan Social Distancing; yakni pembatasan fisik dan interaksi sosial. Sejak saat itu, orang mulai mengakrabi sunyi. Rumah seakan jadi tempat satu-satunya di bumi. Jangankan bertemu kawan, kita pun sudah mulai melupakan tradisi jabat tangan. Tiap berpapasan kita seperti bermusuhan, karena kini ada satu meter yang dianggap sebagai jarak aman.

Penutupan warung makan mulai gencar. Kafe-kafe kini banyak yang tutup sementara, atau hanya melayani pesan antar. Di Blitar sendiri, jalan utama mulai ditutup tiap akhir pekan. Maka, lupakan dulu nge-mal dan nonton bioskop. Lupakan dulu ingin bervakansi atau sekadar ngopi.

*

Datangnya Korona membawa banyak kejutan, baik bagi sekelompok orang atau pribadi.

Semua kampus dan sekolah meliburkan diri. Work From Home dan Learning From Home kini jadi istilah yang tak asing untuk sebagian instansi. Cuti superpanjang hadir tanpa prediksi, dan sayangnya tak bisa diisi dengan pergi-pergi.

Tapi, tempat saya bekerja-sebuah toko bangunan di batas kota, tetap buka. Bermacam pertimbangan membuat pemiliknya memutuskan tidak berhenti beroperasi. Saya juga masih datang ke sana Senin hingga Sabtu. Job desk saya memang di dalam ruangan, tak butuh interaksi dengan banyak orang.

Namun, kini saya seperti kehilangan esensi akhir pekan. Jika di hari libur saya-yang hanya Ahad itu, saya menyempatkan hadir di temu rutin komunitas, atau bertandang ke sejumlah kafe, kini harus rela berdiam di rumah.
Jika dihitung-hitung, sudah hampir empat minggu saya melakukan ini: bangun-bersih diri-berangkat kerja-pulang.

*

Awalnya, saya merasa biasa saja dengan rutinitas itu. Bahkan sudah bisa menikmati. Korona membuat saya sering menonton konser musik live di YouTube, saksikan bincang antartokoh di IGTV, juga mengenal Netflix yang menjadi kawan hingga tengah malam.

Sebab, Korona juga berdampak besar bagi dunia hiburan. Bermacam event; dari konser, talkshow, hingga syuting film dan sinetron terhenti. Banyak penyanyi dan aktor dipaksa menganggur. Banyak program televisi disiarkan tanpa penonton. Maka, menggelar konser dan bincang-bincang lewat media daring pun jadi pilihan.

Tak hanya itu. Setiap hari, masakan ibu tersaji. Belum lagi, aneka camilan dan minuman yang mendadak penuhi kulkas dan lemari. Rasanya terjamin sekali hidup ini.

*

Tapi, lambat-laun, kejenuhan mulai datang. Rindu bertemu makin menumpuk seiring waktu. Layar ponsel mulai dirasa tak cukup mengobati.

Apalagi kemarin siang, saat saya terima sebuah pesan yang menyesakkan. Dari salah satu teman SD yang telah sangat lama tak berjumpa.

Dalam pesannya, ia yang kini berdomisili di Solo itu menanyakan kabar. Juga sedikit bercerita bahwa semalam, saya hadir di mimpinya. Barulah ia ingat sebuah janji untuk bertemu saya saat sudah pulang ke Blitar. Dan kini, Korona membuat rencana itu makin tertunda.

*

Ditambah lagi, datangnya Ramadan tinggal menghitung hari. Melihat gelagat Korona yang masih enggan pergi, beberapa ulama pun sudah mengumumkan bahwa takkan ada shalat Tarawih berjamaah. Begitu pula shalat Idul Fitri nantinya.

Masjid dan mushala yang sudah sepi akan makin sepi. Lalu, bagaimana nuansa Lebaran tanpa saling jabat tangan dan tak dikunjungi handai taulan?

*

Korona, hadirmu membawa banyak kejutan. Nan menyesakkan.[]

06 April 2020
Adinda RD Kinasih

Image Source: Canva
loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama