Langsung ke konten utama

Bertemu Bandung (4.1)

"Roses blooming pretty
People say that home is where the heart is
It's a place with so much history
Friendly Bandung city
Holds the past of ancient glories
And a thrilling future mystery..."

-Mocca, Bandung


Senin, 20 Januari 2020






Pagi di Casa Lembang terasa sejuk dan menenangkan. Sejak terjaga Subuh tadi, saya sudah naik ke lantai dua. Ternyata ada Mas Dito di sana, serius menyimak siaran berita di televisi. Saya mengambil tempat di sisi jendela, sembari membukanya agak lebar. Hawa segar langsung menembus hidung dan paru-paru, terasa melegakan.

Setengah jam kemudian, saya turun untuk mandi. Seperti kemarin, saya memperhatikan deretan poster film di tembok samping tangga. Rasanya masih tetap penasaran dengan pemilik tempat ini.




Sekitar pukul setengah tujuh, Mas Daffa dan Mas Hilmy pergi dengan mobil. Mereka kembali tak lama kemudian, dengan beberapa porsi lontong sayur, serta sekotak kue serabi untuk sarapan kami.

*

Saya kembali duduk di tangga, iseng membaca tulisan yang tertera di poster film Testpack dan Sabtu Bersama Bapak. Lalu, mata saya menemukan dua nama ini, tertulis sebagai penulis skenario film-film itu. Ninit Yunita dan Adhitya Mulya.




Sontak, saya menyadari sesuatu. Di rak televisi lantai atas, ada hiasan kayu berbentuk huruf N dan A. Lalu, sejak kemarin, dua nama itu juga saya temukan di sejumlah buku yang ada di kamar. Jadi, villa keren ini milik mereka?

Saat saya tanyakan pada Mbak Savira, ternyata benar. Dia memang langsung mengontak Teh Ninit saat mem-booking villa ini. Wow, saya tak menyangka.

*

Nama Ninit Yunita tak pernah asing di telinga sejak saya SMA. Sebab, saya punya novel Heart yang ditulisnya, berdasarkan skenario film Heart yang dibintangi Irwansyah, Acha Septriasa, dan Nirina. Film itu sempat booming pada masanya. Selain itu, Teh Ninit juga menulis novel Testpack.





Sedangkan sang suami, Adhitya Mulya, saya malah baru tahu bahwa beliaulah yang menulis novel dan skenario film Jomblo dan Sabtu Bersama Bapak.



Usai sarapan, kami bersiap checkout dari Casa Lembang. Sebelumnya, kami sempatkan foto bersama berlatar dapur favorit saya itu, hehehe. Terimakasih Teh Ninit dan Pak Adhit untuk Casa Lembang yang nyaman. Dan tentunya, terimakasih Mbak Savira, untuk telah memesankan tempat ini. Hehehe.

*

Mobil mengarah ke kota. Entah berapa jam, tapi perjalanan terasa cukup lama. Saya dibuai lelap sebentar, sebelum akhirnya terjaga dengan heran.

Mobil kami tengah terparkir di sebuah basement. Ternyata itu adalah basement sebuah apartemen. Tera Residence Braga namanya. Mas Dito, Mbak Savira, dan Almira sedang check in dan memasukkan semua barang kami ke salah satu unit di apartemen tersebut.



Seberesnya, kami melaju lagi ke sebuah tempat oleh-oleh khas Bandung, Kartika Sari. Sepanjang perjalanan, saya sejenak tertegun. Jadi ini kawasan Braga yang kerap saya dengar dalam tembang Bandung milik Fiersa Besari itu?

Di toko oleh-oleh yang sudah punya banyak cabang di Bandung dan sekitarnya ini, kami membeli sejumlah jajanan. Ada pisang bolen, cheese roll, dan banana crispy.

*

Terik siang membakar, rasa lapar pun ikut menjalar. Dalam waktu tak terlalu lama, mobil berhenti lagi di depan sebuah toko yang sedang tutup. Tak jauh dari sana, ada sebuah restoran yang terlihat sangat ramai. Mata saya mengarah pada papan namanya. Restoran Se'i Sapi Lamalera.

Konon, se'i adalah daging asap khas dari Nusa Tenggara Timur. Restoran yang khusus menjual hidangan ini pun telah dibuka di banyak kota di Indonesia.




Sembari menanti antrean, Mas Dito membawakan saya sesuatu yang menyegarkan. Es krim durian! Mata saya berbinar seketika. Rupanya memang ada penjual es durian di depan tempat makan itu. Rasanya mirip seperti es krim durian merk terkenal yang dijual di minimarket. Bedanya, dalam es krim ini ada sebutir buah duriannya juga.

*

Akhirnya kami sudah mendapat tempat di restoran Se'i Sapi itu. Ternyata mayoritas menu di sini berbumbu pedas. Saya pun memilih menu lidah sapi lada hitam yang tak terlalu pedas.

Sambil menunggu pesanan, kami mendiskusikan destinasi selanjutnya. Namun sebelumnya, kami akan mengantar Mas Daffa ke kampusnya. Dia memang ada jadwal kuliah sejak siang hingga jelang Maghrib nanti.



Ada beberapa destinasi di kawasan Kota Bandung yang akan dituju. Namun, suara pikiran saya ramai sendiri. Kali ini saya ingin mencari acara sendiri. Sejenak menyingkir dari pusat keramaian, tuntaskan rindu dan penasaran yang telah bertahun-tahun tersimpan.

Hendak ke manakah saya sesungguhnya? Nantikan di catatan selanjutnya.[]

10 Pebruari 2020
Adinda RD Kinasih

Sumber Gambar: Wikipedia dan dok. pribadi




loading...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama