Langsung ke konten utama

Terimakasih Kalian - Sebuah Catatan tentang KMCS




Sejak awal, tujuan Ruparasa dibangun adalah untuk berbagi sedikit cerita tentang kehidupan saya. Ya, cerita sejak lahir, seputar kondisi kaki saya, juga bagaimana saya menjalani kegiatan sehari-hari, seperti bersekolah dan berteman.

Lalu, muncullah ide membuat satu rubrik baru bernama KMCS (Kata Mereka, Celoteh Saya). Berisi cerita-cerita ringan saya tentang sejumlah orang yang pernah dan masih mewarnai hidup. Agak berbeda, saya pun menambahkan sedikit pendapat mereka tentang saya.

Tak terasa, KMCS telah masuk bagian kesepuluh. Ada lima sahabat lelaki dan lima sahabat perempuan dengan ragam kisahnya yang menarik.

Terimakasih untuk kalian semua; Ajeng Nur Indah Sari, Fitriara, Arsylia Imasiwa, Nezli Rohmatullaili, dan Alfa Anisa.

Juga untuk kalian; Ananta Yogi, Dimas Fanny, Mas Burhanuddin Muhammad Yusuf Annuri, Irsyadul Ibad, serta Kak Ahmad Fahrizal Aziz.

Terimakasih telah menjadi bagian dari rubrik KMCS, dan telah bersedia membagi pendapat-pendapat jujurnya tentang saya. Dari sanalah saya dapat belajar untuk lebih mengintrospeksi diri jadi lebih baik lagi.

Terimakasih untuk segala pelajaran, kebaikan, dan inspirasi yang telah dibagi untuk saya hingga sekarang. I wish all the best for you all.

Tapi jangan khawatir, para Pembaca. Kata Mereka Celoteh Saya akan berlanjut lagi dengan kisah dari kawan-kawan lain yang tak kalah asyik dan menginspirasi.

Nantikan![]

18 Desember 2019
Adinda RD Kinasih


loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama