Langsung ke konten utama

Saya dan Musik




Entah kenapa, saya dan musik seperti elemen tak terpisahkan. Mendengarkan lagu sudah menjadi rutinitas. Bisa dibilang, hampir semua kegiatan yang saya lakukan diiringi lagu-lagu. Atau, bisa juga dengan suara saya yang pas-pasan, hahaha...

Mungkin ini bukan tanpa sebab. Dahulu, selain menjadi guru Kesenian, ayah saya adalah penyiar radio di dua tempat berbeda di Malang. Yakni di Radio TT-77 dan Puspita FM. Saya kerap mendengarkan suara ayah siaran. Semacam pengantar tidur.

*

Program yang disiarkan ayah saat itu adalah Konci (Konsultasi Cinta) dan Tersuci (Terminal Surat Cinta). Ya, program yang banyak dinanti para remaja di masanya. Oleh sebab itu, lagu-lagu yang di-request pendengar pun adalah lagu bertema cinta. Salah satu yang paling banyak diminati adalah karya Kahitna.




Maka, sudah bisa diterka. Lagu yang cukup sering saya dengarkan adalah milik band asal Bandung ini.
Tak heran, saat guru di Playgroup dulu meminta saya menyanyi di depan kelas, lagu Cerita Cinta-lah yang saya senandungkan, hehehe.

Lho, anak balita kok lagunya cinta-cintaan, sih? Lalu, lagu anak? Oh, ada. Lagu milik Suzan dan Ria Enes yang jadi favorit saya.

*

Selain itu, ayah juga punya banyak kaset pita dari berbagai musisi dan genre lagu. Pekerjaannya di radio membuatnya cukup sering merekam lagu ke dalam kaset kosong, lalu dikoleksi di rumah.




Jadi, dapat dikatakan, beraneka lagu sudah menghiasi hari-hari saya sejak kecil. Apalagi saat baru pindah ke Blitar. Meski saat itu ayah sudah tak lagi menjadi penyiar radio, tapi lagu-lagu masih menghiasi rumah saya setiap harinya.

Pada masa itu, kaset VCD sempat booming. Ayah pun punya VCD player di rumah. Lagu yang sering diputar ayah tentu saja favoritnya, seperti Iwan Fals, Ebiet G Ade, Bimbo, Koes Plus, Panbers, Queen, Led Zeppelin, Genesis, Guns 'n Roses, juga lagu-lagu campursari dan keroncong karya Manthous, Didi Kempot, Waljinah, dan lainnya. Kadang, saya juga berkaraoke sejumlah lagu.

*

Ayah dan ibu juga sempat memasukkan saya ke tempat les vokal. Bertempat di Jalan TGP Blitar, tepatnya di gang sebelah BTPN. Gurunya bernama Pak Yayak.




Beliau biasanya didampingi Mas Ardi dan Mbak Diana, kedua anaknya, saat melatih vokal. Mas Ardi lebih sering mengiringi dengan keyboard-nya. Mbak Diana membantu sang ayah melatih vokal. Saya les di sana sejak TK hingga (mungkin) kelas lima SD saja.

Kini, tempat itu menjadi sebuah studio musik bernama ArdiDiana Music Studio.

*

Hingga kini, musik masih menghiasi hari-hari saya. Perihal mendengarkan lagu pun ada evolusinya tersendiri.




Sejak tahun 2003 hingga setidaknya 2010 lalu, saya masih membeli kaset pita. Harga kaset pita dulu berkisar 18 ribu hingga 22 ribu rupiah. Harga yang cukup mahal saat itu. Kadang ada yang dibelikan orangtua atau paman, ada pula yang saya beli sendiri memakai angpau Lebaran. Hehehe.

*

Ada bermacam musisi yang saya koleksi kasetnya, mulai dari grup band, seperti Ungu, Dewa19, Sheila on7, Letto, Nidji, Yovie & Nuno, d'Masiv, dan ADA Band, juga Evanescence. Boyband asal Taiwan, F4, dan sang legenda, Westlife juga tak ketinggalan.




Ada pula karya sejumlah solois, seperti Ari Lasso, Melly Goeslaw, Chrisye, Gita Gutawa, para finalis Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Michael Jackson, dan Afgan, tentunya. Untuk Afgan, hingga tahun lalu saya masih membeli kaset CD-nya.

*

Namun, mendengarkan radio juga tak ketinggalan kala itu. Mengirim pesan, me-request lagu, lalu menunggu hingga lagu itu diputar adalah sebuah keasyikan tersendiri. Selain itu, di beberapa stasiun radio ada program tangga lagu. Rasanya gembira sekali jika lagu favorit berhasil menduduki urutan pertama.




Beberapa tahun lalu, saat mendengarkan lagu dalam format mp3 mulai marak , saya masih harus membuka aplikasi pengunduh lagu di Google, lalu mencari dan mengunduh lagu-lagu itu satu persatu. Sering pula berbagi file mp3 lagu-lagu lewat flashdisk, bluetooth, atau Whatsapp.

Oh ya, saat itu saya juga gemar mencatat lirik lagu-lagu. Sampai-sampai, ada buku khusus untuk itu. Hahaha...

*

Tak hanya mendengarkan lagu, saya juga penonton acara-acara musik dan ajang pencarian bakat di televisi.




Tahun 2000-an adalah eranya konser besar yang disiarkan live di TV. Tahun 2003 adalah awal acara ajang pencarian bakat Indonesian Idol dan Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Hingga kini, saya masih nonton Indonesian Idol.

*

Saya mulai kenal aplikasi pemutar musik digital kalau tak salah di akhir 2017. Awalnya, yang saya gunakan adalah Joox. Namun sayang, saat itu aplikasi Joox memorinya besar sekali dan lagu-lagunya pun kurang lengkap.




Maka, kemudian saya beralih ke Spotify hingga sekarang. Aplikasi pemutar musik digital memang semakin memudahkan kita untuk mencari dan menemukan album dan lagu musisi kesukaan, juga bisa langsung menyetel lagu yang diinginkan. Tinggal klik saja.

*

Tapi terkadang, mendengarkan lagu lewat kaset juga masih dirindukan. Sebab, setiap musisi pasti punya cerita masing-masing dalam setiap albumnya, yang tercermin dari urutan lagu-lagu mereka di dalam album itu.




Itulah cerita cukup panjang mengenai saya dan musik. Jika ada yang bertanya, apakah sekarang saya masih nyanyi atau tidak, jawabannya ya. Saya masih nyanyi. Di kamar dan di toilet, tapi. Hehehe.[]

30 Nopember 2019
Adinda RD Kinasih


Keterangan Foto:

1. Music quotes. Source: Pinterest

2. Logo radio TT-77 Malang. Kini stasiun radio itu sudah tidak ada.

3. Kaset koleksi ayah.

4. Koleksi album Peterpan dan buku Kisah Lainnya karya Ariel.

5. Kaset pita koleksi saya. On Pict: album Ari Lasso, Gita Gutawa, Melly, Opick, Ello, Chrisye, dan Michael Jackson.

6. Kaset pita koleksi saya. On Pict: album Sheila on7, ADA Band, Evanescence, Ungu, Letto, d'Masiv, Nidji, Yovie & Nuno, Peterpan, dan Dewa.

7. Buku yang memuat lirik lagu-lagu. Ada lirik lagu I Have a Dream yang ditulis ibu saya saat saya kelas 4 SD.

8. Koleksi album peserta AFI 1 hingga 4.

9. Tangkapan layar aplikasi Spotify.

10. Koleksi album Afgan. On Pict: album Confession No. 1, The One, L1VE To LOVE, SIDES, dan DEKADE. Ada yang berbonus tandatangan, hehehe.

11. Music quotes. Source: Pinterest





loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama