Langsung ke konten utama

Masa Sekolah (4) - Sekolah Menengah Pertama

Masa SMP saya lewati di Madrasah Tsanawiyah Negeri Blitar di kawasan Karangsari.

Sejujurnya tak terlalu banyak yang bisa saya ingat dari masa ini. Maka, saya akan coba menuliskannya seingat saya.

*

Di kelas tujuh, saya masuk kelas E. Di sekolah ini, kelas E, F, G, H, dan I adalah kelas khusus perempuan. Konon, kelas E adalah kelas unggulan yang menjadi anak-emas para guru. Jujur saja, saya sendiri tak tahu mengapa bisa masuk ke kelas E. Saya rasa, saya tak terlalu pas untuk masuk ke sana.




Teman dekat saya di kelas ini adalah Anis Nur Hidayah.
Anis inilah yang pertama kali menginspirasi saya menulis. Di jam istirahat, dia gemar menulis cerpen, novel, dan puisi. Ada buku-buku tulis yang khusus ia sediakan untuk ini.

Berawal dari menjadi pembaca, kemudian saya ikut menulis juga. Ingin tahu cerita apa yang pertama kali saya tulis? Tentang para akademia AFI 2005! Hahaha. Kala itu, saya memang ngefans berat dengan salah satu finalisnya yang bernama Bojes.

*

Di kelas delapan, saya ditempatkan di kelas G. Seingat saya, kelasnya berada di lantai dua. Di sini, saya berkawan baik dengan Malik Isroyani dan Afidatul Rofiah.

Malik yang saya kenal adalah seorang tomboi yang suka sekali pada lagu-lagu ADA Band, terutama vokalisnya, Donnie Sibarani. Dia juga hobi mendengarkan radio.

Setiap hari, obrolan kami tak lepas dari program musik favorit di Radio Joosh Tulungagung yang dibawakan Faysal Antonio. Apalagi saat lagu-lagu ADA Band sering diputar di sana.

*

Di kelas delapan ini pun hobi menulis saya berlanjut. Menggunakan buku-buku bekas SD yang tak terpakai, saya menuliskan novel bertajuk Magic of Love.




Menceritakan seorang gadis bernama Diandra, yang bertemu sepasang lelaki kembar bernama Galang dan Gilang. Diceritakan, Galang ini berwajah mirip Pasha Ungu. Hahaha. Memang, kala itu saya juga cukup mengikuti perjalanan bermusik Ungu.

*

Saat kelas sembilan, saya masuk ke kelas F. Mengapa ditempatkan di kelas ini? Salah satu pertimbangan dari para guru adalah agar saya tak lagi naik-turun tangga, karena kelas F berada di lantai bawah.

Saya juga sempat mengikuti Club (pelajaran tambahan) Bahasa Inggris, dan beberapa kali ikut lomba Bahasa Inggris. Entah menang atau kalah, saya lupa.

*

Guru favorit saya di sekolah ini, pasti tiga guru Bahasa Inggris, yaitu Bu Mutik Sofiana, Pak Johan Santoso, dan Bu Binti Saidah.

Selain itu, ada Pak Rohmat, guru Matematika yang super killer. Hehehe. Saya pasti mati kutu saat disuruh mengerjakan soal di depan kelas. Ada pula Pak Kalim, guru Sejarah, yang sering memberitahu bocoran soal ulangan pada kami agar tak ada yang remidi. Hahaha.

Ada pula Pak Qomar, guru Bahasa Indonesia, yang gemar menceritakan sejarah sekolah kami. Jika sudah bercerita tentang itu, beliau sering lupa untuk menyampaikan materi. Hehehe.

Ada pula Bu Haryani, guru Bahasa Indonesia. Bu Esti Munafifah guru Fisika, juga Bu Siti Fathonah guru Ekonomi.

*

Oh ya, ada lagi teman yang paling saya ingat. Yakni Laila Afif, Lailatul Fitria, Millatinna Lestari, Nessya Indri, Anahtadiya, Gusti Nindya Paramita, Saraya Rahma, Eka Novita, Riska Agustina, Puspitarini Indraningtyas, Agustin Nurlaila, Pinta Zumrotul Izzah, Mufidatuz Zahrok, Zakiyah Himawati, Laila Ma'rufah, Yuni Indah, Reny Insyiroh, Iput Susilowati, Akmala, dan lainnya. Ternyata cukup banyak yang saya ingat. Hehehe.




Bagaimana saya bisa mengingat mereka? Mungkin karena binder ini. Di sini terkumpul biodata dan foto mereka semua. Hehehe.

*

Di masa SMP (MTs) ini, saya tak seaktif sekarang. Lebih sering berada di kelas, entah untuk membaca novel atau menulis puisi. Saya juga tak pernah ikut Upacara Bendera dan pelajaran Olahraga. Sebagai gantinya, saya diminta membuat makalah tentang sejumlah materi, juga diberi tes tulis saat ujian.

Beruntung, teman-teman dan para guru bisa menerima kondisi saya dengan baik.

Terimakasih MTsN Karangsari, untuk segala kisah dan kenangan yang ditorehkan. Terimakasih para guru atas bimbingan dan kesabarannya, semoga Anda semua sehat dan bahagia selalu. Dan terimakasih teman-teman, untuk bisa menerima saya dengan baik. Selalu saya doakan yang terbaik untuk kalian semua.[]


4 Nopember 2019
Adinda RD Kinasih

Keterangan foto:

1. Saya dalam balutan seragam identitas MTs Karangsari. Difoto oleh Anis, menggunakan tustel.

2. Buku tulis yang memuat novel karangan saya. Block note mungil itu adalah buku diari saya, hehehe.

3. Binder yang memuat biodata teman-teman.

loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama