Langsung ke konten utama

Kata Mereka, Celoteh Saya (9) - Irsyadul Ibad




"Aku menerima Mbak Dinda sebagaimana adanya, sama seperti yang lain. Jadi aku tidak bisa menilai positif-negatifnya orang."
-Irsyad


Balasan itulah yang saya terima saat memintanya sebutkan dua kalimat tentang saya. Meskipun begitu, saya akan tetap menuliskan ini buat dia.

Saya mengenal Irsyad di FLP Blitar, sekitar awal tahun 2016. Melihatnya pertama kali, ia terlihat cuek dan pendiam. Tapi sebenarnya, itu hanya kesan awalnya saja.

*

Seorang Irsyad adalah humoris, dan punya pemikiran dewasa dan jauh ke depan, padahal usianya beberapa tahun lebih muda dari saya. Dia berbakat di dunia desain dan menggambar. Dia juga piawai menulis cerpen. Ide-idenya brilian, pemilihan katanya juga bagus.




Satu lagi, lelaki yang biasa saya sapa Ibad ini juga menguasai dua jenis alat musik, yaitu gitar akustik dan piano. Dia pernah mengirim file mp3 permainan pianonya pada saya. Saat itu, dia memainkan salah satu lagu Yiruma.

*

Ada satu momen tak terlupakan buat saya. Kalau tak salah di bulan April 2016, saya kembali bernyanyi setelah sekian lama berhenti. Tampil di hadapan sekitar 50-an orang, cukup membuat saya gemetaran kala itu.




Saya membawakan lagu milik Andra & The Backbone, Sempurna, dengan iringan gitar Irsyad. Syukurlah, penampilan saya tak buruk-buruk amat, meski itu terbilang cukup mendadak. Saya hanya sempat berlatih di malam sebelum hari H.

*

Kini Irsyad tengah berkutat pada kesibukannya di bidang desain interior di Bandung. Namun, ia juga masih menyempatkan diri datang ke pertemuan rutin FLP Blitar jika sedang pulang ke Blitar.



Terimakasih yaa, Ibad, untuk telah menjadi salah satu kawan baik saya. Terimakasih juga untuk nasihat-nasihatnya. Semoga kamu sehat selalu. Ayo, kapan kita nyanyi bareng lagi?[]

11 Desember 2019
Adinda RD Kinasih


loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama