Langsung ke konten utama

Kata Mereka, Celoteh Saya (8) - Dimas Fanny Hebrasianto




"Dinda itu overthinking dalam hal apapun, dan suka nggak enakan sama orang. Tapi dia punya ambisi dan tekad kuat untuk sesuatu yang ingin diraihnya."
-Dimas


Saya mengenalnya sejak SD, saat kelas empat. Tapi, saya tidak terlalu dekat dengannya saat itu. Saya justru lebih sering ngobrol dengannya sejak 2016.

Dimas adalah seorang unik yang suka bulutangkis, animasi, novel fantasi, dan naik kereta api. Sejumlah gunung pernah didaki, beberapa pantai disinggahi. Rasa cinta pada alam dalam dirinya pun sudah terbukti.

*

Lelaki yang memfavoritkan Duo Minions alias Kevin-Marcus ini menyelesaikan pendidikan Teknik Informatika jenjang D4-nya di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), dan di ITS Surabaya untuk S2-nya. Dia juga sempat menjadi dosen di salah satu universitas di Blitar.




Jujur saja, saya agak tidak menyangka. Sebab, seingat saya, dulu saat di SD Dimas cukup sering diusili oleh Gilang, meski dia berani membalas. Tapi kini, boleh dikatakan, Dimas adalah salah satu teman SD saya yang cerdas, khususnya di bidang IT.

Tapi jangan salah. Lelaki penggemar grup musik rock Dream Theatre ini juga piawai menulis, khususnya novel bertema fantasi. Ide-idenya cukup brilian menurut saya. Malah, sejak tahun lalu, dia juga bergabung dalam FLP Blitar.

*

Di awal tahun 2017, tanpa saya duga, dia menanggapi serius permintaan main-main saya dalam chat Whatsapp. Sore itu, dia bertandang ke rumah saya untuk mengantarkan dua novel fenomenal ini.




Saya mulai tertarik dengan karya JK Rowling ini sejak meminjam seri ketujuhnya dari seorang teman. Lalu saya berniat mengoleksi seluruh serinya. Tak disangka, Dimas merelakan seri satu dan dua novel Harry Potter miliknya buat saya.

"Udah, bawa aja. Buat kamu. Dirawat, ya."

Begitu ucapnya kala itu. Maka, nikmat mana lagi yang saya dustakan? Hehehe. Buat saya, buku memang serupa harta karun. Berharga.

*

Sukses terus, yaa, Dim. Terimakasih sudah menjadi salah satu teman baik saya. Terimakasih novel Harry Potter-nya.

Oh ya, satu hal lagi. Saya tahu kamu cukup disibukkan oleh jadwal dan harus pergi ke sana kemari. Tapi, luangkan juga waktumu untuk menulis. Entah itu menuliskan catatan sederhana, atau melanjutkan naskah novelmu yang keren itu.

Saya paham, membiasakannya memang tidak mudah. Tapi saya yakin kamu pasti bisa. Atau, apakah harus ada waktu yang kepepet dulu untuk bisa membuatmu menulis? Hehehe...[]


8 Desember 2019
Adinda RD Kinasih



loading...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama