Langsung ke konten utama

Kata Mereka, Celoteh Saya (6) - Ananta Yogi





"Tidak banyak yang bisa diingat, tapi Dinda kecil dulu cerewet juga, ternyata."
-Ananta Yogi


Namanya Yogi. Dalam ingatan saya, ia adalah lelaki kecil yang gesit. Kami sempat sekelas saat bersekolah di RA Perwanida.

Kemudian, saat masuk SD, ada teman saya yang bernama Yogi juga. Saya sempat agak rancu saat itu. Apakah ini Yogi kawan saya di TK atau bukan. Ah, daya ingat saya cukup payah, rupanya.

Tapi akhirnya saya pun sadar, ini dua Yogi yang serupa tapi tak sama. Yang satu bernama Ananta Yogi. Satunya lagi Yogia Gusti Yahya. Nah, kawan saya di TK adalah Ananta Yogi.

*

Saya bertemu lagi dengan Yogi justru saat masuk SMA di MAN Kota Blitar. Tapi di sini kami berbeda jurusan. Saya di Bahasa, dan dia di IPA. Saat angkatan saya dulu, kelas Bahasa dan IPA letaknya bersebelahan.

Walaupun begitu, kami malah tak pernah menyapa. Kalau diingat lagi sekarang, lucu juga. Teman lama, tapi justru tak saling sapa. Padahal saya tahu dan ingat, kalau dia adalah Yogi teman saya di TK.

*

Yang tak terduga justru pertemuan saya dengan ibunya, sekitar awal tahun ini. Kala itu, saya sedang mengurus SIM Card saya di kawasan Jalan Veteran. Saat tengah menunggu giliran, tiba-tiba seorang ibu di samping saya menyapa.

"Kamu Dinda, ya?"

Saya mengiyakan, lalu merasa heran. Terdiam sejenak, mencoba memilah memori. Di waktu yang manakah saya pernah bertemu beliau? Sungguh, saya belum ingat.

Beliau tertawa kecil. "Lupa, ya? Saya ibunya Yogi. Ananta Yogi."

Wah, jadi ini ibunya Yogi? Saya balas tertawa sambil menahan malu. Justru sang ibulah yang masih mengingat saya. Sementara saya malah lupa, hehehe.

Obrolan pun dirangkai setelahnya. Saling bertanya kabar dan aktifitas sehari-hari. Ibunda Yogi banyak bercerita rutinitas Yogi saat ini. Kini Yogi bekerja di Kantor IDI Kabupaten Blitar sebagai staf Administrasi.

Sekarang beliau hanya tinggal berdua dengan putra bungsunya itu, setelah sang suami wafat beberapa tahun lalu. Sementara kakak Yogi sudah menikah.

*

Kenangan masa kecil pun masuk dalam perbincangan. Rupanya Ibu Yogi masih ingat juga kalau dulu saat masih TK, kami punya selimut yang sama.

Benar, model selimutnya sama, hanya gambarnya saja yang berbeda. Selimut saya bergambar Hello Kitty, sedangkan milik Yogi bergambar Keropi si katak hijau. Hehehe.
Apakah kamu masih menyimpan selimutnya, Gi?

*
Tak berapa lama seorang pemuda berperawakan tinggi kurus masuk. Kemudian langsung menghampiri Ibu.

"Nah, ini lho Yogi, Din.." ujar sang ibu.

Baru kali itulah saya bertatap muka lagi dengan Yogi, setelah hampir 10 tahun. Kami bertukar jabat tangan, saling tanya kabar, lalu bertukar nomor Whatsapp.

*

Belum lama ini, dia membagikan sedikit cerita lucunya saat di TK dulu. Jika dulu di TK saya harus merelakan kotak makan Tupperware saya hanyut di sungai, kisah Yogi lain lagi dan tak kalah kocaknya.

Menurut cerita Yogi, pada suatu hari ia keluar kelas karena merasa bosan. Dia langsung panik dan menangis saat tak menemukan ibunya di depan kelas. Saat TK dulu, dia memang sempat ditunggui ibunya.

Saking paniknya, dia langsung berlari ke luar areal sekolah. Para wali murid yang ada di sekitar situ langsung heboh dan mengejar Yogi. Tapi, bocah lincah ini tak bisa tertangkap semudah itu.

Entah keberanian dari mana, tiba-tiba Yogi menyeberangi jalan raya yang sedang ramai. Saya tak bisa membayangkan bagaimana reaksi wali murid yang mengejarnya, pasti mereka semakin panik. Akhirnya Yogi berhasil dihentikan di depan toko sepatu Chandra.

Hanya satu orang yang bisa menenangkan Yogi saat itu. Tak lain dan tak bukan, ialah Bu Anis, guru TK kesayangan kami semua. Beliau langsung menggendong Yogi dan mengajaknya ke koperasi sekolah untuk membeli jajanan kecil. Hehehe...

*

Terimakasih sudah berbagi cerita tentang masa lalu dan sekarang, Gi. Sukses selalu, ya. Salam juga buat Ibu, semoga beliau sehat selalu.

Oh ya, ada satu hal yang bisa saya tangkap dari obrolan saya dengan Ibumu saat itu. Pancaran sinar matanya, yang berkata bahwa beliau sangat bangga padamu. Always do your best, Yogi![]

3 Desember 2019
Adinda RD Kinasih


Image Source : Pinterest


loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama