Langsung ke konten utama

Masa Sekolah (1) - Playgroup




Masa sekolah saya diawali dari sebuah Kelompok Bermain (Playgroup) bernama Hidayatul Mubtadi'in. Sekolah ini terletak di Jalan Danau Maninjau Selatan Dalam, Blok D1-c19, Sawojajar. Ya, sekolah ini masih berada satu perumahan dengan rumah saya.
Ibu yang mengantar saya setiap hari, dengan naik sepeda. Saya bersekolah di sini sejak bulan September 1995 hingga Juni 1996.

Pada masa itu, pelajaran di sekolah ini cukup beragam dan mengasyikkan. Ada materi mewarnai, menggambar bentuk, kolase, melipat, bernyanyi, menari dengan iringan musik, berhitung menggunakan tiga bahasa, senam, berenang setiap Jumat atau Sabtu, dan tentunya juga menulis huruf hijaiyah, serta hafalan doa-doa dan surat pendek.

Di masa PG ini, saya hanya sanggup mengais sepotong-sepotong memori. Dulu, kalau tak salah, saya belum terlalu kuat berjalan sendiri, jadi Ibu lebih sering menggandeng saya menuju ke kelas. Ibu Guru juga kerap membantu.





Untunglah, teman-teman dan para guru sangat baik dan bisa menerima kondisi saya. Para guru juga tak pernah menganggap saya berbeda. Beliau juga mengikutsertakan saya saat kegiatan lomba, olahraga, juga belajar di luar kelas.

Ada dua guru kesayangan saya kala itu, bernama Bu Fat dan Bu Ning. Oh ya, di masa PG dulu, saya tidak dipanggil Dinda, tapi Angger. Angger memang panggilan saya semasa kecil.

*

Mencari foto kenangan di masa Playgroup ini pun cukup sulit. Dulu saya sempat punya selembar foto bersama semua siswa dan guru. Tapi sayang, foto itu telah rusak terkena air.




Hanya Buku Penghubung ini saja yang masih tersimpan hingga sekarang. Terimakasih sudah mengajarkan banyak ilmu, Bu. Semoga guru-guru di PG/TK Hidayatul Mubtadi'in sehat selalu.[]

20 Nopember 2019
Adinda RD Kinasih


Keterangan foto:

Atas : Saya saat main ke Perumahan Sawojajar, lalu lewat dan menyempatkan berfoto di depan gedung sekolah Hidayatul Mubtadi'in tahun 2014. Hari itu Ahad.

Tengah : Saya, 3 tahun, berseragam olahraga

Bawah: Buku Penghubung PG Hidayatul Mubtadi'in



loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama