Langsung ke konten utama

Cerita Kedai Kopi (1) - Lojikopi

Tiap Ahad, sepulang dari Perpustakaan Bung Karno atau lokasi temu rutin lain, saya kerap menuju kafe atau kedai kopi. Biasanya bersama teman-entah janjian bertemu di sana, atau berboncengan ke sana. Kadang juga sendirian.



Kadang, saya bisa mengunjungi kedai yang sama dua hingga tiga kali. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya. Misalnya karena kenyamanan tempat, atau sedang ada promo tertentu. Atau bisa juga karena itu kafe terdekat yang dapat dijangkau dari titik keberangkatan saya.




*

Kali ini, saya akan membahas Lojikopi. Berlokasi di Jalan Anjasmoro nomor 49, kafe berarsitektur vintage-modern ini menawarkan suasana rumahan yang asyik untuk tempat ngobrol. Tak lupa, dengan iringan lagu-lagu hits terkini.






Lojikopi menawarkan aneka menu andalan. Ada beragam varian kopi, tentunya. Seperti kopi hitam yang diracik dengan sejumlah metode, americano, cappuccino, mochaccino, latte, dan lainnya. Selain itu, ada pula greentea, es kopi susu aren, es cokelat, juga beberapa varian teh.

Ada menu minuman terbaru di kedai ini, yakni Coffee Cheese, Greentea Cheese, dan es kopi susu boba.

Kafe ini juga menyediakan macam-macam kudapan, mulai dari ringan hingga berat. Ada kentang goreng, roti panggang dengan aneka topping, burger, juga chicken rice bowl. Yang terbaru, ada spicy chicken wings; sayap ayam goreng dengan bumbu pedas yang nikmat di lidah.




*

Ingin cari tempat ngobrol, mengerjakan tugas, atau sekadar mengisi akhir pekan? Lojikopi bisa jadi jawabannya.[]

17 Nopember 2019
Adinda RD Kinasih

Sumber gambar: dok. pribadi
loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama