Langsung ke konten utama

Yang (Tak) Terlewatkan

...walau ku terlambat, kau tetap yang terhebat...

Tunjuk Satu Bintang bermain merdu di telinga saya siang ini. Ya, ini memang masih siang. Tapi rasanya bintang itu sudah saya temukan.

Entahlah. Sejak awal kemunculannya, 22 tahun lalu, para lelaki Jogja ini memang telah berhasil mencuri perhatian indera dengar pecinta musik Indonesia. Lewat sejumlah karya seperti Kita, Dan, Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki, Sephia, dan banyak hits lainnya.

***

Saya pertama kali mendengarkan karya mereka sekitar tahun 2002, saat kelas 4 SD. Ada salah satu sahabat saya yang sangat menyukai mereka, terutama sang vokalis, Duta. Sementara saya, tak se-ngefans itu dengan band ini. Saat itu, saya lebih mengikuti perjalanan bermusik band Dewa 19.

Meski begitu, tembang-tembang Sheila on7 masih tetap lekat di telinga. Karena pada masa itu, menyaksikan penampilan mereka di televisi masih sangat mudah. Banyak acara musik yang disiarkan sore atau malam di akhir pekan. Sering pula ada event konser besar suatu band, termasuk Sheila on7.

***

Tahun 2004, Sheila on7 meluncurkan album mereka yang bertajuk Pejantan Tangguh. Lagu Itu Aku menarik perhatian saya. Saya pun membeli albumnya, berbentuk kaset pita. Ya, karena saya dulu punya tape recorder. Sayang sekali sekarang sudah rusak. Lagu favorit saya di album ini yakni Pemuja Rahasia, Tanyaku, Pilihlah Aku, dan Itu Aku tentu saja.

Namun, setelah itu, saya tak lagi mengikuti perkembangan bermusik Sheila on7. Bahkan hingga album Musim yang Baik yang dirilis pada 2014. Hanya tembang Lapang Dada dan Beruntungnya Aku yang sempat selintas saya dengar.

Baru ketika mereka merilis Film Favorit di awal tahun 2018, saya penasaran dan langsung menyukai liriknya. Apalagi saat Sheila on7 berhasil memenangi sejumlah ajang penghargaan musik berkat lagu ini. Lambat laun, saya jadi merindukan karya-karya terdahulu mereka. Untunglah kini dapat dengan mudah dicari dalam platform pemutar musik digital.

***

Tanggal 14 September lalu; sehari sebelum ulangtahun saya, Trans7 sangat berbaik hati menayangkan konser spesial Kisah Klasik Sheila on7. Sejak awal acara, saya sudah standby di muka televisi. Menyaksikan mereka bersama beberapa penyanyi lain, dan membawakan hampir 20 lagu selama dua setengah jam.

Di sinilah saya baru sadar. Bahwa saya rindu nonton konser besar seperti ini. Saya kangen Sheila on7. Dan benar, band ini sangat luarbiasa. Mengalami pasang-surut sepanjang 22 tahun berkarya, mereka tetap bersemangat memberi penampilan terbaik. Ditambah dengan kerendahan hati dan kesederhanaan mereka semua, yang membuat band ini tetap dicintai para penikmat musik. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih membanjirnya tawaran manggung off-air untuk mereka. Bahkan ada yang bilang, bahwa Sheila on7 adalah satu-satunya band yang tak punya haters.

Satu lagi, rupanya Duta, Eross, Adam, dan Brian ini pun hobi melucu di sela peformanya. Mungkin ini salah satu resep awet mudanya mereka ya. Hehehe. Kini saya tahu mengapa sahabat saya itu bisa se-ngefans itu pada band Jogja ini.

***

Ya, mungkin boleh dibilang saya fansnya Sheila on7 yang telat banget. Tapi tak apa, daripada tidak sama sekali, bukan? Yang saya sesalkan, mengapa saya tak mengoleksi album mereka sejak dulu. Hanya satu album ini saja yang saya miliki. Tapi yang pasti, keempat wong Jogja ini takkan saya lewatkan lagi.

Bahagianya saya saat mengetahui jika Trans7 akan menayangkan ulang konser Kisah Klasik Sheila on7 pada Sabtu esok. Semoga saya dapat menyaksikannya.
Meski kini telah menjadi band independen, tetap jalan terus, Sheila on7! Karena bicara tentang Mas berempat adalah nostalgia tanpa jeda.[]

20 September 2018
Adinda RD Kinasih

Tulisan ini juga dapat dibaca di sini

Komentar

  1. SO7 itu legend menurut aku Din. Dan seperti kebiasaanku yang suka sesuatu karena alasan yang simple. Waktu itu aku belum pernah dengar lagu Dan. Aku hanya baca liriknya. Jatuh cinta dengan lirinya first. Lalu semua lagunya jadi suka. Sama kaya Westlife. Suka lirik Flying Wihtiut Wings first baru ngefans berat sama mereka he he. Yap. SO7 sangat rendah hati. Pernah di ulas sama salah satu penyiar radio baru baru ini. But, siapa namanya aku lupa Din.

    BalasHapus
  2. Luluuu.. benar banget. Aku baru sadar SO7 istimewa.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama