Langsung ke konten utama

Mimpi, Bukan?

"Never regret for being good.
Never forget to be good.
The path will show you good."

-Ahmad Abdul Indonesian Idol

Beberapa waktu belakangan ini, hati saya terasa campur aduk. Pertama, karena Indonesian Idol musim ini telah selesai, dan saya masih cukup merasa kehilangan rutinitas tiap Senin malam. Yakni duduk di depan TV hingga jam 1 pagi.

Yang kedua, tentu saja ujian semester yang akan dihadapi Ahad depan. Meski sudah berulangkali mengikuti ujian serupa, jika ada pertanyaan "Sudah siap?", ternyata jawabannya masih sama. Belum. Meski begitu, saya tetap berusaha belajar semampunya hingga saat ini.

***

Sore tadi, saya terbangun dengan kejut saat jam menunjukkan pukul empat sore. Ya Allaah, rupanya saya melewatkan rutinan FLP hari ini. Ya, saya tertidur. Padahal, agendanya adalah persiapan Kelas Menulis Puisi yang akan digelar 6 Mei mendatang.

Setelah bersih-bersih badan sejenak, saya melongok ponsel. Ah iya, saya lupa jika data internetnya mati. Berarti saya sudah offline sekitar tiga jam lebih. Segera saya nyalakan kembali.

***

Beberapa menit berselang, sejumlah pesan Whatsapp berdatangan. Beberapa dari grup FLP Blitar, dari Mbak Faridha, dan dari Ayu Liestiani, Afganisme Bandung.

Di grup FLP, rupanya ada beberapa foto rutinan tadi. Ada sedikit sesal di hati atas ketidakhadiran tadi. Padahal, dua minggu ke depan saya pun absen karena harus ke Malang untuk mengikuti ujian akhir.

***

Beralih pada pesan berikutnya. Mbak Faridha yang menyapa, saya balas dengan satu kata : "Ketiduraaan". Percakapan dengannya berlanjut sebentar. Kami bicara seputar Alfa Anisa yang akan pulang esok.

Saya juga bertanya, masihkah Mbak Faridha sibuk selama seminggu ke depan. Benar saja, aktifitasnya masih sangat padat. Wah, sayang sekali. Padahal saya ingin meluangkan waktu sebentar untuk bertemu sebelum UAS saya nanti.

***

Pesan selanjutnya. Dari Ayu Liestiani, Afganisme Bandung. Kali ini isi pesannya cukup aneh. Hanya huruf "P" yang tertulis di sana. Ada apa? Apa mungkin dia tak sengaja memencet huruf P dan terkirim ke saya?

Saya pun menjawab pesannya dengan sapaan. Ia membalas dalam waktu tak terlalu lama. Kalimat balasannya bernada kesal, saya rasa. Dia sedang menunggu vc yang selalu lama, katanya.

Saya urung membalas lagi. Vc apa? Pikir saya kemudian. Bukankah baru beberapa minggu yang lalu Afgan merilis videoklip Love Again?

***

Tapi tiba-tiba saya menyadari satu hal. Apakah istilah Vc yang dimaksud Ayu adalah video call? Tunggu sebentar. Hari ini Afgan mengunjungi gerai KFC di Bandung. Apakah Ayu....

Benar saja! Saat saya sedang offline tadi, ternyata Ayu berusaha menghubungi saya lewat video call Whatsapp. Rupanya ia meluangkan waktu untuk datang ke KFC siang tadi.

Dan yang membuat saya menyesal adalah ternyata Afgan sendiri yang memakai ponsel Ayu untuk menghubungi saya!
Ah, kalau saja saya tidak mematikan koneksi internet...

Ayu dan Afgan sempat berbincang sebentar. Ayu bercerita juga tentang saya. Katanya, saya adalah Afganisme dari Blitar yang selama 10 tahun ini belum pernah bertemu langsung dengan Afgan. Afgan pun mengucapkan terimakasih dan meminta maaf karena belum bisa ke Blitar.

***

Di tengah penyesalan yang melingkupi benak, tiba-tiba Ayu meminta alamat rumah saya. Saya pikir, untuk apa? Dan begitu pula balasan saya.

"Kalau nggak mau ya udah." Balas Ayu kemudian. Saya makin heran. Belum sempat saya membalas lagi, tiba-tiba gadis berkacamata ini mengirim sebuah foto.

Seketika, saya kehilangan kata-kata. Apakah saya sedang berhalusinasi? Ini mimpi bukan? Berkali-kali saya menanyakan itu pada diri saya sendiri. Dan nyatanya yang saya lihat adalah foto itu.

Sebuah CD DEKADE bertandatangan Afgan, dan ada nama saya tertera di sana dalam tulisan tangan Afgan! Meski huruf "A"-nya jadi terlihat seperti huruf "P", tapi tak apa-apa. Saya tetap yakin kalau itu nama saya. Hehehe.

***

Untuk teman-teman FLP Blitar, semoga acara Kelas Menulis Puisinya nanti sukses. Percayalah, meski saya tak dapat hadir di sana, doa saya selalu bersama kalian. Sampai jumpa tiga minggu lagi, ya. InsyaAllaah.

Dan tentunya, terimakasih Ayu Liestiani, untuk kejutan yang tak main-main di akhir pekan ini. Satu pelajaran penting yang saya peroleh; jangan online-offline seenaknya. Karena kesempatan emas selalu datang tanpa disangka.

Terimakasih juga sudah menyempatkan menyampaikan salam saya pada Afgan. Sekali lagi saya minta maaf. Ini kedua kalinya kita gagal video call-an ya. Yang pertama sekitar sebulan atau dua bulan lalu, saat Afgan sedang mengisi suatu acara di Bandung.

Oh ya, Ayu. Alamat rumah sudah saya kirimkan ya. Jangan cegah saya untuk menunggu. Karena pekerjaan baru bernama "menunggu" itu sudah dimulai sejak kamu mengirimkan foto ini. Hahaha...

***

Tak lupa, terimakasih Afgan, yang telah ikut ambil bagian dalam acara mengagetkan saya sore ini. Meski kini saya tak lagi sering mengikuti kabarmu, tapi tak bisa saya pungkiri, kamu masih selalu punya tempat di hati saya.
Tetaplah bernyanyi dan menginspirasi!

Satu hal lagi. Entah mengapa saya jadi meyakini kebenaran kata-kata bijak yang tertulis di atas. Quotes itu saya screenshot dari instastory milik Abdul Indonesian  Idol.

Jangan menyesal untuk menjadi baik. Jangan lupa untuk jadi baik. Jalanmu pun juga akan baik.[]

29 April 2018
Adinda RD Kinasih

Foto oleh : Ayu Liestiani

Komentar

  1. aaaaa. Dapat tanda tangan Afgan ya Din. Aku mauuuuu.

    BalasHapus
  2. Suatu saat nanti kamu juga akan dapat itu. InsyaaAllaah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama