Langsung ke konten utama

Indonesian Idol 2018 dan Segala Euforianya

Tahun ini, Indonesian Idol musim kesembilan kembali digelar. Ajang pencarian bakat yang telah ada sejak tahun 2004 ini berhasil melahirkan penyanyi-penyanyi hebat bersuara khas.

Sebut saja Delon, Judika, Citra Scholastika, Gisella Anastasia, Mike Mohede, Virzha, juga Rinni Wulandari. Bahkan, Kunto Aji pun ternyata pernah ikut Indonesian Idol, meski tak sampai final.

Namun, ada yang berbeda dengan musim kali ini. Indonesian Idol tahun ini seperti punya euforia tersendiri.

Selain masih setia pada Daniel Mananta sebagai host, juri-jurinya juga baru, yakni Ari Lasso, Maia Estianty, Judika, Bunga Citra Lestari, dan Armand Maulana. Tak lupa, para finalisnya yang memiliki keunikan masing-masing.

***

Saya telah mengikuti tayangan Indonesian Idol 2018 ini sejak babak audisi. Dan di tahap ini pun, beberapa peserta sudah menjadi sorotan.

Sebut saja Marion Jola. Gadis jelita asal Kupang ini memukau juri lewat tembang Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta Lagi. Suara manjanya berhasil menuai jutaan viewers di YouTube.

Begitu pula Ghea Indrawari. Gadis 20 tahun yang juga pernah mengikuti ajang Rising Star Indonesia ini menampilkan lagu Issues dari Julia Michaels dengan suara khasnya. Bahkan, dia pula yang menyematkan panggilan baru untuk Ari Lasso, yakni Ahjussi.

Tak ketinggalan, finalis asal Denpasar, Ahmad Abdul. Berbekal gitar, ia sukses membawakan tembang Lost Stars. Hingga ia mendapat julukan Adam Levine-nya Indonesia. Di babak Eliminasi, ia pun berhasil menyanyikan All I Want dari Kodaline.

***

Berbeda dengan mereka bertiga, sosok JK dan Kevin Aprilio justru mulai mencuri perhatian saya sejak babak Showcase dan Top 15. JK yang berasal dari Surabaya selalu memilih lagu-lagu yang antimainstream. Seperti Nurlela karya Bing Slamet, Yank dari Wali, juga Fana Merah Jambu yang dipopulerkan Fourtwnty. Sayangnya, langkah JK terhenti di babak Top 15.

Sementara, Kevin Aprilio, lelaki 17 tahun asal Jogja ini memukau telinga saya sejak ia membawakan lagu Dewi karya Dewa 19. Ada yang unik dari dirinya, ialah suara khas dan gayanya yang cuek-tapi-asyik. Sayangnya, ia harus tersisih di babak 10 besar Spektakuler Show. Tersisihnya Kevin saat itu mengejutkan banyak pihak, bahkan sempat menimbulkan kontroversi.

***

Kontestan-kontestan lain pun tak kalah istimewa. Ada Mona dan Whitney yang sempat memukau juri lewat penampilannya di audisi; Chandra yang menonjol lewat suara rock-nya; Glen yang miliki suara empuk; Bianca Jodie yang sebelumnya telah banyak meng-cover lagu di YouTube; Ayu yang bersuara khas, piawai memainkan sejumlah alat musik, dan kerap bergaya SWAG dengan hijabnya; Joan yang miliki gospel voice; serta Maria dengan suara powerful yang hampir tak pernah fals.

***

Babak demi babak telah terlewati. Satu persatu kontestan pun terhenti. Hingga akhirnya terpilihlah dua grand finalist, yaitu Abdul dan Maria. Saya lega, karena Abdul, sebagai satu-satunya peserta laki-laki yang masih bertahan, berhasil melaju ke Grand Final.

Menyoal siapa jagoan saya di Grand Final ini, tentu saja Abdul. Lelaki 27 tahun ini mengawali karier bernyanyinya dari kafe ke kafe. Penampilan Abdul yang menjadi favorit saya diantaranya adalah saat ia menyanyikan All I Want dari Kodaline, This Town dari Niall Horan, History dari One Direction, You Are The Reason dari Callum Scott, Masih Ada yang dibawakan bersama Eka Gustiwana, serta Karena Ku Cinta Kau yang berduet dengan BCL.

Berkat penampilan dan suara khas-nya, Abdul mendapat banyak apresiasi. Tak hanya dari juri dan para penggemar, talentanya pun diakui oleh Kodaline, Callum Scott, The Script, hingga Adam Levine.

***

Namun, Maria tak kalah hebatnya. Di usianya yang masih 16 tahun, gadis asal Medan ini memiliki suara yang sangat matang dan powerful. Hampir seluruh peformanya di babak Spektakuler mendapat standing ovation dari para juri. Ternyata, Maria pun sempat mengikuti ajang Indonesian Idol Junior, meski hanya sampai lima besar.

Menurut saya, penampilan paling dahsyat dari Maria adalah saat ia membawakan OST film The Greatest Showman, Never Enough. Bahkan, penyanyi aslinya pun turut memberikan pujian untuk penampilannya itu.

***

Kini, mari deg-degan lagi untuk Grand Final minggu depan. Bukan saja tentang siapa juaranya, tapi saya lebih penasaran pada kolaborasi mereka berdua dengan musisi ternama Yovie Widianto.

Wah, kira-kira apa ya yang akan disuguhkan pentolan Kahitna ini bersama Abdul dan Maria? Kita tunggu saja.[]

11 April 2018
Adinda RD Kinasih

Sumber gambar: Instagram @indonesianidolid dan @ywpiano

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama