Langsung ke konten utama

9 Tahun Afganisme : Cara Mengapresiasi Afgansyah Reza dari Masa ke Masa

Sejak pagi tadi, beranda Facebook saya sudah penuh ucapan selamat ulangtahun untuk Afganisme yang ke-9, yang jatuh tepat di hari ini.

Diawali pada 2008 lalu, kemunculan seorang solois pria bernama Afgansyah Reza lah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Afganisme. Dengan dua hits nya kala itu, Terimakasih Cinta dan Sadis, yang berhasil mendapat tempat di hati para penikmat musik.
#

Sementara, seperti yang sudah pernah saya tuliskan di beberapa catatan yang lalu, saya mulai mengenal Afgan justru pada tahun 2009. Saat itu, ia baru meluncurkan single-nya yang bertajuk Bukan Cinta Biasa. Tak lama kemudian, ia pun menjadi cameo dalam film berjudul sama, yang dibintangi Olivia Jensen, Ferdy 'Element', dan Wulan Guritno.

Sejak saat itu, tepatnya medio 2010 hingga 2014, saya seperti ketagihan. Bukan saja pada lagu-lagunya, tapi saya juga jadi hobi mengunduh foto, video, film, juga mengikuti berita-berita terbarunya. Bahkan, saya rela begadang hanya untuk melihat penampilannya di televisi.
Saya pun mengoleksi kaset albumnya. Ada pula DVD film, kaos, gantungan kunci, juga beberapa lembar posternya yang terpajang di kamar saya.

Tak hanya itu, kala itu, nama akun Facebook saya adalah 'Adinda Dhara Afganisme'. Begitu pula kotak status yang hampir selalu saya isi dengan hal-hal berbau Afgan. Saya juga sering membuat catatan tentang Afgan, salah satunya puisi yang berjudul Sajak Afgan, yang saya buat hingga 15 bagian! Hahaha...

Meski menurut saya, cara saya menyukai Afgan saat itu biasa saja, tapi ada beberapa orang yang keheranan dan berkomentar tentang kebiasaan saya itu, yang tak terlalu saya tanggapi.
#

Karena Afgan, saya juga jadi mengenal beberapa teman Afganisme yang lain. Setiap orang punya cara berbeda-beda untuk mengekspresikan rasa sukanya pada Afgan dan lagu-lagunya.

Ada yang hobi membuat cerita bersambung dengan tokoh Afgan; ada pula yang gemar membuat sketsa wajah Afgan; juga hobi menandai Afganisme lain dengan foto-foto Afgan. Bahkan, ada seorang Afganisme dari Klaten yang rela mengirimi saya sebuah flashdisk berisi video-video penampilan Afgan.

Tak jarang, Afganisme juga terlibat dialog seru tentang penampilan Afgan di suatu acara, juga topik satu ini: pacar Afgan. Ya, sosok Afgan memang dikenal misterius untuk urusan pacar. Meski dia sempat dekat dengan beberapa wanita, tapi hingga kini tak ada yang tahu persis siapa pacar Afgan sebenarnya.
#

Memasuki tahun 2015, intensitas saya untuk meng-update semua tentang Afgan mulai berkurang. Nama Facebook saya pun sudah tak ada kata 'Afganisme'nya lagi. Tapi, bukan berarti saya berhenti menyukai lagu Afgan. Tidak. Lagu-lagunya masih sering saya dengarkan. Saya masih menyaksikan saat ia tampil di televisi. Yang paling menjadi favorit saya adalah saat Afgan diundang ke acara ulangtahun suatu stasiun TV atau konser-konser besar. Karena di sanalah Afgan akan menampilkan sesuatu yang berbeda; menyanyikan lagu-lagunya dengan aransemen baru, berduet dengan penyanyi lain, atau meng-cover lagu milik musisi lain.
#

Di pertengahan tahun 2016, Afgan meluncurkan album keempatnya yg bertajuk SIDES. Awalnya, saya agak galau, karena terancam tak bisa mendapatkan album itu. SIDES dijual di Alfamidi seluruh Indonesia, tapi di Blitar tidak ada Alfamidi.
Tiba-tiba, seorang Afganisme asal Jakarta mengirimkan paket berisi kaset CD SIDES ke rumah saya. Kaget, senang, dan tak menyangka bercampur jadi satu. Tak ada kata lain yang bisa saya ucapkan padanya, selain terimakasih.

SIDES berisi 13 lagu, terdiri dari 3 lagu yang telah lebih dulu dirilis sebagai single di tahun 2014, 2015, dan awal 2016, yakni Knock Me Out, Percayalah, dan Kunci Hati, yang merupakan ciptaan Afgan sendiri.
Sementara, 10 lagu lainnya adalah lagu baru. Afgan juga ikut ambil bagian dalam pembuatan lirik untuk kesepuluh lagu ini.
Aransemennya banyak yang lebih up-beat, ada pula unsur musik EDM dan rap yang ditambahkan pada lagu Berani Sadari, yang dinyanyikan dengan Yura Yunita dan Rayi Putra. Ada pula tiga lagu yang liriknya full-English. Namun, rupaya Afgan tetap tak ingin menghilangkan ciri khas dari albumnya, yaitu adanya tiga lagu ballads, Setia Menunggu dan Ku Dengannya Kau Dengan Dia, juga Jalan Terus yang di dalamnya terdapat musik orkestra.
#

Memasuki akhir 2016 hingga awal 2017 ini, saya sudah semakin jarang mengikuti berita tentang Afgan, atau sekadar mengunduh foto, video, dan lagunya.
Entahlah. Mungkin karena adanya hal-hal lain yang kini harus lebih diprioritaskan.
Bahkan saya malah hampir lupa jika hari ini adalah Anniversary Afganisme yang ke-9, hehehe. Padahal, sudah ada beberapa Afganisme yang memberitahu saya tentang project pembuatan video untuk merayakan hari jadi ini--yang tidak saya ikuti.
#

Akhirnya, Selamat Hari Jadi untuk Afganisme yang ke-9. Terimakasih untuk telah turut mewarnai hidup saya.

Mungkin memang, saat ini saya sudah tak lagi intens mengikuti berita, mengunduh foto dan video, atau update status yang berbau Afgan, tapi bagi saya, Afgan tetaplah salah satu dari sejumlah solois pria Indonesia yang istimewa karena ke-khas-an suaranya.
#

25 Januari 2017
Adinda RD Kinasih


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama