Langsung ke konten utama

Jatuh Hati Setelah Pergi

sumber gambar: www.idnnews.com
Cinta, pegang tanganku ini
Ku tak mampu bertahan lagi
Dalamnya luka hatiku
Cinta, pegang tanganku ini
Dan yakinkan bahwa diriku
Mampu berjalan meskipun tanpanya….
—Mampu Tanpanya


Akhir-akhir ini, lagu di atas sering terputar, sejak saya memasukkan kembali lagu ini ke dalam playlist ponsel. Setiap kali mendengarkan lagu ini—juga dua lagu lama yang sempat dinyanyikan ulang olehnya, Cinta Kan Membawamu dan Sahabat Jadi Cinta, ada sesak yang tiba-tiba menyapa.

Lelaki ini mulai dikenal sejak ia memenangi sebuah ajang pencarian bakat di salah satu televisi swasta pada 2005 silam, yakni Indonesian Idol musim kedua. Meski kemudian namanya tak setenar rivalnya yang menjadi runner up saat itu, Judika. Saya sendri tak terlalu tahu perkembangan karir bermusiknya. Setahu saya, ia tergabung dalam sebuah grup vokal bernama Idol Divo, yang beranggotakan Delon, Michael, Judika, Lucky, dan dia, tentu saja. Bahkan, setelahnya, ia ditunjuk mewakili Indonesia dalam ajang Asian Idol.

Dia juga sempat tergabung dalam sebuah album kompilasi yang digagas Pongki Barata, dan menyanyikan ulang salah satu lagu ciptaan Pongki, Setia. Tak hanya itu, Mulan Jameela pun pernah berduet dengannya dalam lagu Tiada Kata. Ada pula beberapa lagu rohani yang ia nyanyikan. Namun, saya hanya tahu beberapa single-nya saja, salah satunya adalah lagu di atas tadi.

Sejak ia me-recycle lagu Zigaz, Sahabat Jadi Cinta, saya jadi cukup sering mendengarkan lagu ini. Lumayan keren juga. Bagaimana tidak, lagu yang awalnya bernuansa rock dengan musik yang menghentak itu, berubah jadi syahdu dan lebih mengena, berkat iringan piano yang berpadu dengan suara lembutnya.

Lalu, saya mulai sering melihatnya di TV saat ia menjadi salah satu juri dalam kontes menyanyi duet di sebuah stasiun televisi swasta—setahun lalu, bersama Once Mekel, Elizabeth Tan, dan Meychan. Saat itu, dia sukses membawa anak didiknya, Fredy, hingga babak lima besar. Berkat kontes menyanyi itu pula, kemudian ia menjadi salah satu nominator untuk kategori Best Male Artist di stasiun TV yang sama.


Pada sebuah malam di 31 Juli. Saya terhenyak, saat ibu saya—yang tengah mengakses aplikasi berita online lewat ponsel menyebut namanya, dan mengatakan bahwa ia telah meninggal dunia, sore itu. Dengan setengah tak percaya, saya segera membuka Google dan mengetik namanya lewat mesin pencari. Saat itu belum banyak situs berita online yang mengabarkan hal ini, tapi sudah ada sedikitnya dua situs terpercaya yang telah memberitakannya.

Sontak, ada sesak yang memenuhi benak saya. Sama-sekali saya tak menyangka. Lagi, Indonesia kehilangan seorang solois muda. Di usianya yang masih 32 tahun, dia dipanggil Tuhan, tepat saat ia tidur. Serangan jantung diduga sebagai penyebabnya. Namun ada pula yang menyebut sleep apnea (gangguan bernapas saat tidur), sebagai penyebab meninggalnya.


Pemakamannya dilaksanakan sehari kemudian. Hari itu, hampir seluruh program infotainment memberitakannya. Tak ketinggalan, ada beberapa program news yang juga menyelipkan kabar kepergiannya ini.

Dan inilah yang terulang. Ada sesak yang sama, memenuhi benak saya tiba-tiba. Menyaksikan betapa banyak orang yang hadir di rumahnya, demi memberikan doa dan penghormatan terakhir. Tak hanya musisi—termasuk alumni dari ajang pencarian bakat yang sempat ia ikuti tersebut, Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono juga turut menghadiri pemakamannya. Mengingat, sehari sebelum ia meninggal, dia sempat menjadi salah satu pengisi acara ulangtahun pernikahan Pak SBY.

Hingga seminggu setelahnya, masih saja ada saja acara musik dan talkshow yang mengangkat tema mengenang kepergian pria yang telah menghasilkan tiga album solo dan dua album kompilasi ini. Beberapa sahabatnya diundang untuk membagi kenangan yang pernah mereka alami bersamanya. Dan hampir semua berkata, ia adalah seorang rendah hati, hangat, ramah, juga suka memberi.
Bahkan, ada satu lagu yang dinyanyikan khusus sebagai bentuk tribute untuknya, berjudul Pergi Untuk Selamanya. Lagu ini ada di dalam album Ruth Sahanaya.


Baru-baru ini, saya menemukan tiga lagu miliknya, saat membuka Youtube dan iseng mengetik namanya di kotak pencari. Tiga lagu itu bertajuk Demi Cinta, Selamanya Kucinta, dan Jatuh Hati. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengunduhnya dan menambahkan ke dalam daftar putar saya.

Entahlah. Padahal sebelumnya saya bukan penikmat musiknya. Tapi, sejak ia pergi, ada semacam desir aneh setiap kali saya mendengar lagu-lagunya. Sedih dan rindu bercampur jadi satu. Sedih, karena ia telah pergi secepat ini. Rindu, dengan senyum lebar dan suara khasnya, yang kini hanya bisa saya dengar lewat lagu.

Mungkin benar, seseorang akan terasa lebih berarti saat ia telah pergi. Dan lelaki tambun ini membuktikan itu. Bahwa *saat jiwa terpisah dari raga, dia kan terbang menghinggapi karya terbaik kita*. Dia masih tetap ada, dan terasa begitu hidup lewat lagu-lagunya


Akhirnya, selamat jalan Mike Mohede. Semoga Tuhan memberikanmu tempat terbaik di sisi-Nya. Terimakasih untuk lagu-lagu yang telah disenandungkan, juga untuk telah ikut mewarnai musik Indonesia.

Aku telah jatuh hati kepadamu
Sungguh-sungguh aku jatuh
Kuingin kau tahu…
Dan untukmu, kan kuberikan hatiku
Seluruh nafas hidupku
Yakinlah kasih, cinta ini untukmu…
—Jatuh Hati


NB: (*) Sign: Penggalan lirik lagu Tulus, Mahakarya.

Agustus – 10 September 2016
Adinda RD Kinasih





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama