Langsung ke konten utama

Untuk Pertama Kali (Lagi)

sumber foto: dok. pribadi
Saya menuliskan ini sambil mendengarkan suara Ismi Riza, salah satu peserta X Factor Indonesia 2015. Saat itu di babak The Chairs, dia tampil membawakan salah satu lagu Adele, Melt My Heart to Stone. Sepanjang lagu dimainkan, keempat juri hanya sanggup terdiam tanpa kata-kata. Dan usainya, gemuruh tepuk tangan menyambut, seiring hujan pujian dari para juri. Dan tanpa berpikir panjang, sang mentor—Afgan, langsung memutuskan memberi satu tempat untuk Ismi melaju ke babak selanjutnya.

Bicara soal musik, lagu, dan menyanyi, sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi saya. Seperti yang pernah saya ceritakan di beberapa tulisan sebelumnya, sejak kecil, saya memang gemar mendengarkan berbagai macam genre lagu, juga menonton acara musik di TV. Mungkin hobi ini terbawa kebiasaan Ayah yang sering menyetel kaset di rumah, juga memutar berbagai lagu request para pendengarnya di radio tempatnya bekerja dulu.

Kebiasaan mendengarkan lagu ini akhirnya membuat saya juga suka bersenandung. Saya pun sempat ikut les vokal saat TK hingga kelas dua SD. Kadang, saya pun berkaraoke di rumah dengan Ayah dan sepupu saya. Saya pun sering diminta menyumbang lagu dalam acara pentas seni sekolah di SD.

Namun, selepas lulus SD, hobi berkaraoke itu berangsur hilang. Saya masih suka menyanyi, hanya beralih tempat di kamar mandi, hehehe. Tapi saya masih suka mendengarkan lagu kapan saja. Sepertinya itulah kegemaran yang masih melekat hingga kini.

Tapi, saya mulai iseng meng-cover beberapa lagu, sejak mendengarkan beberapa orang yang meng-cover banyak lagu di Youtube dan Soundcloud. Apalagi saat Kak Fahri, sahabat saya sejak SMA, sering meminta saya mendengarkan beberapa lagu yang di-cover-nya. Saya pun memberi beberapa masukan, yang dibalasnya dengan balik menantang saya membuat cover lagu juga. Meski awalnya ragu, akhirnya saya mencoba juga, meski dengan suara yang pas-pasan karena sudah tak pernah lagi dilatih. Dan saya pun meminta Kak Fahri mendengarkan cover lagu versi saya. Dia pun memberi banyak masukan, salah satunya adalah tentang soul dalam menyanyi. Menurutnya, nyanyian saya masih kurang penjiwaan. Dan satu yang paling saya ingat, dia pernah berkata, saya selalu bernyanyi dalam zona nyaman saya, dan harus mencoba keluar dari situ.

Minggu lalu, saya dan beberapa pengurus FLP Blitar mengobrolkan acara seminar menulis yang akan menghadirkan dua penulis dan sastrawan dari Jombang dan Bondowoso. Kami pun membahas tentang siapa yang akan tampil sebagai perwakilan dari FLP untuk selingan pada acara itu. Tanpa diskusi lebih panjang lagi, kami meminta Kak Fahri berkolaborasi dengan Irsyad yang tampil dalam seminar itu. Dan dia pun mengiyakan, meski saya bisa membaca sedikit keraguan dari raut wajahnya.

Beberapa hari menjelang hari H, saya kembali menanyai Kak Fahri untuk memastikannya. Dan akhirnya, Sabtu malam kemarin, dia bersama Irsyad datang ke rumah saya, yang memang mereka “pinjam” untuk tempat latihan.

Irsyad datang lebih awal dengan membawa gitar dan beberapa makanan ringan. Sambil menunggu Kak Fahri, kami mengobrol sambil genjrang-genjreng. Tak lupa, saya menanyakan lagu yang akan dibawakan Kak Fahri. Sebuah lagu dari Jagostu, Mau Tak Mau.
Kak Fahri datang setengah jam kemudian. Mereka pun mulai mencocokkan nada dan berlatih. Hasilnya lumayan, meski suara Kak Fahri agak serak. Setelahnya, kami berbincang tentang musik, diselingi nyanyi bareng dengan iringan gitar Irsyad. Tak disangka, mereka berdua kompak menodong saya ikut menyumbang lagu juga. Saya, tentu saja kaget, dan buru-buru menolak.


Tapi kemudian, intro Sempurna milik Andra & The Backbone terdengar. Beberapa detik berlalu, hingga akhirnya saya memberanikan diri mengisi petikan gitar itu. Beberapa kali musik dimainkan, beberapa kali pula saya tidak pede dengan suara saya sendiri.
Hingga pada ujicoba kesekian, saya mulai bisa menyenandungkan lagu karya gitaris Dewa ini hingga selesai.
Dan kekompakan mereka masih sama. Saya diminta ikut menyumbang lagu dalam seminar itu. Baiklah. Saya coba sebisanya.

Pagi ini, saya sampai di lokasi seminar satu jam lebih awal, dengan masih merasa tak percaya dengan keputusan saya semalam. Nyanyi? Saya nyanyi? Ketidakyakinan saya mulai muncul lagi. Ingin rasanya membatalkan saja. Sungguh, saya tak bisa meredam deg-degan yang mendera sejak sampai di tempat ini.

Acara pun dimulai. Seusai moderator membacakan susunan acara dan profil narasumber, penampilan dibuka dengan musikalisasi puisi oleh salah satu mahasiswi Himakom. Setelahnya, moderator menyebut nama Kak Fahri sebagai penampil selanjutnya. Memasuki pertengahan lagu, tiba-tiba penonton kompak bertepuk mengikuti irama lagu. Saya, yang ikut bernyanyi dari tempat saya duduk sejak awal lagu dimainkan, mendadak gemetaran. Tidak, tidak bisa. Saya mau batal tampil saja.

Tapi terlambat. Terdengar musik berhenti dan Kak Fahri menyudahi lagunya. Dan benar saja, moderator itu menyebut nama saya sebagai pengisi ketiga. Kontan saja, sekujur tubuh saya jadi makin gemetar. Tapi saya tak bisa berbuat apa-apa lagi selain maju dan menempati kursi di samping Irsyad yang sudah siap dengan gitarnya.

Duduk di hadapan limapuluh-an pasang mata sukses membuat jantung saya berdegup makin kencang. Saya pun mengawalinya dengan perkenalan singkat. Setelahnya, intro Sempurna dimainkan. Saya pun mulai bernyanyi, masih dengan tubuh yang gemetar. Rupanya saya demam panggung betulan, hehehe.

Tapi saya lega, karena bisa menyanyikan lagu yang juga di-recycle oleh Gita Gutawa itu hingga akhir. Walau saya tahu banyak kelemahan di situ, seperti starting point  yang kurang tepat, nada tinggi yang hampir tak bisa dicapai oleh suara saya, kurangnya interaksi dengan penonton, dan yang paling fatal, gemetaran dan tegang parahnya itu!

Namun, saya tetap berterimakasih dengan diberikannya kesempatan ini. Inilah untuk pertama kalinya (lagi) saya bernyanyi secara live di depan umum, dan diiringi langsung dengan gitar, setelah yang terakhir kali dalam acara perpisahan kelas 6 SD duabelas tahun yang lalu.
 

Untuk Irsyad dan Kak Fahri, terimakasih atas ‘todongannya’, hahaha. Dan Irsyad, terimakasih sudah mengiringi dengan petikan gitar kerenmu itu. Maaf kalau suaraku nggak maksimal, karena latihannya dadakan dan cuma semalam, juga karena demam panggung itu. Semoga Mas Andra juga memaafkanku, hehehe…

17 April 2016
Adinda Dara

Komentar

  1. Din .. Ane jadi penasaran banget sama suara dan perform kamu Din .. upload di youtube atau di fb dong .. pengen lihat ane. Ternyata Dinda nggak hanya jago nulis tapi juga jago nyanyi. Aaah .. penasaran banget. Dan satu yang ane angkat jempol buanget sama kamu Din .. tampil di depan umum dan bernyanyi. Itu salah satu hal yang sangat luar biasa buat ane, soalnya ane di mata teman teman ane di juluki .. sosok di belakang layar. Saking tidak mampunya ane bicara atau tampil di depan umum he he .. semoga bisa nular ke ane ya .. aamiin

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama