Langsung ke konten utama

The Biggest Concert yang Tak Terlihat Seperti Konser Tunggal

Akhir Januari lalu, tak sengaja saya menemukan jadwal acara Afgan untuk bulan Pebruari yang diposting dalam fanpage-nya. Seketika saya terlonjak senang saat membacanya, karena di tanggal 26 nanti, Afgan akan punya acara besar di SCTV, bertajuk The Biggest Concert Afgan: Sound of Love. Afgan sendiri mengatakan bahwa ini adalah konser tunggal pertamanya yang disiarkan secara langsung di televisi.

Kalimat The Biggest Concert itu membawa ingatan saya pada konser tunggal Afgan sebelumnya, Dari Hati, yang dihelat Pebruari tahun lalu di JCC. Saat itu, Afgan yang ditemani Erwin Gutawa Orchestra, The Gandarianz, DJ Dipha Barus, Rossa, dan Sherina itu begitu megah, dan membuat saya—yang hanya menyaksikan siaran ulangnya di Trans7, merasa seperti nonton langsung di JCC. Saya pikir, konsep Sound of Love ini akan tak berbeda jauh dengan Dari Hati.

Akhirnya, Pebruari pun menginjak angka 26. Malam itu, pukul setengah sepuluh tepat, saya sudah stay tuned di depan TV.

Dan alangkah herannya saya melihat panggung yang tak terlalu besar, dan terkesan penuh, karena sudah dipadati para pemusik dari Aluna Orchestra. Afgan pun membuka dengan dua lagu, (kalau tidak salah) Pesan Cinta dan Tak Peduli.
Setelah itu, saya makin dibuat kaget saat mengetahui bahwa host-nya adalah Uus, salah satu peserta Stand Up Comedy Academy Indosiar. Konser Afgan, host-nya Uus? Entah kenapa saya merasa ada yang salah di sini. Apalagi saat Uus menanyai Afgan dengan selipan stand up-nya itu, dan Afgan malah menanggapinya dengan datar-datar saja. Mungkin karena lawakan Uus terkesan dipaksakan dan dibuat-buat. Hmm…baiklah. Ini baru awal acara, tapi saya sudah boring dengan konser ini. Membuat saya terpaksa mengganti channel TV.

Saya mulai stay tuned lagi saat Afgan membawakan Percayalah bersama Raisa. Afgan juga sempat berkomunikasi dengan Rossa yang ternyata sedang ada di Malaysia. Jadilah, Afgan menyanyikan Kamu yang Kutunggu bersama Gita Gutawa, yang menurut saya justru kurang greget. Juga, saat Raisa dan Andien meng-cover Bawalah Cintaku dan Dia Dia Dia, bagi saya juga kurang pas. Entahlah, mungkin ini karena mood saya yang memburuk sejak awal konser.

Tapi, senyum saya mulai melebar saat Afgan melantunkan sebait Ijinkan Aku Menyayangimu, disusul dengan Andai Aku Bisa, dan Akhir Cerita Cinta, sebagai wujud apresiasinya terhadap tiga musisi favoritnya, Chrisye, Iwan Fals, dan Glenn Fredly.

Begitu pula saat saya mendengarkan Sadis, Bukan Cinta Biasa, Cinta Dua Hati, Sabar, dan Terimakasih Cinta yang dikemas dalam aransemen dan improvisasi baru.

Maka, terlepas dari konsepnya yang mengecewakan, konser ini tetap menghibur dan sanggup melipur rindu saya pada Afgan.
I’ll be waiting for your next and next big concert,
dengan konsep yang lebih bagus, tentunya. Dan sukses juga untuk project dua album barunya tahun ini. Segera dirilis ya, Gan!


Terimakasih Afgan, untuk telah dan masih bernyanyi dan menginspirasi hingga delapan tahun ini.
Terimakasih cinta…

27 Pebruari 2016
Adinda RD Kinasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama