Langsung ke konten utama

Westlife, Dulu, Kini, hingga Nanti



♪ I have a dream, a song to sing
Lirik I Have a Dream yang ditulis ibu saya
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairytale
You can take the future even if you fail
I believe in angels, something good in everything I see
I believe in angels, when I know the time is right for me
I’ll cross the stream, I have a dream…♪

Kala itu, sekitar tahun 2001-an. Saya masih seorang gadis kecil sembilan tahunan yang sangat gemar menyanyikan lagu ini – meski dengan Bahasa Inggris yang masih sangat kacau, sekaligus menyukai lima orang yang menyanyikannya. Mereka tergabung dalam Westlife, boyband asal Irlandia, yang beranggotakan Shane Filan, Bryan McFadden, Nicky Byrne, Kian Egan, dan Mark Feehily.
Masih lekat dalam benak saya, saat itu dinding kamar hampir penuh dengan poster-poster Westlife, yang dahulu bisa sangat mudah didapatkan dari para pedagang kaki lima di pinggir jalan. Tak hanya itu, kaset CD mereka pun saya punya, meski hanya dua, dan saya dapat dari pedagang kaset kaki lima pula.
*
Dari kiri: Bryan, Kian, Shane, Nicky, Mark
Sebenarnya, saya pertama kali mengenal Westlife dari bibi saya, yang juga penggemar lagu-lagu mereka. Sampai kemudian, ayah saya memberikan sebuah CD album pertama Westlife, bertajuk Westlife Deluxe. Sejak saat itu, sederet tembang seperti Fool Again, Swear it Again, Season in The Sun, hingga If I Let You Go menjadi sangat akrab di telinga. Kegandrungan saya pada lagu-lagu mereka berlanjut saat keluarnya album kedua, Coast to Coast, yang memuat beberapa hits seperti My Love, I Lay My Love on You, What Makes a Man, Against All Odds, When You’re Looking Like That, Soledad, My Girl, Uptown Girl, dan Don’t Get Me Wrong. Begitu pun dalam album ketiga, World of Our Own, tembang bertitel Queen of My Heart, World of Our Own, dan Bop-Bop Baby, juga menjadi favorit saya.

Tak hanya saya, beberapa teman di SD pun ada yang menyukai grup yang sukses di Inggris dan Asia ini. Malah dulu saya pernah berdebat dengan seorang teman, tentang siapa yang paling bagus dalam Westlife. Saya memilih Shane, sedangkan teman saya itu lebih menyukai Bryan. Hehehe…
*
Namun, ketika album Turnaround dirilis, saya malah beralih menyukai artis lain. Westlife seperti “tenggelam” dalam benak saya, tapi bukan berarti saya tak menyukai mereka lagi. Apalagi ketika 2004, Bryan memutuskan hengkang dari grup yang membesarkan namanya itu, makin membuat saya sedih, dan seperti enggan mencari tahu tentang Westlife lagi. Poster mereka pun lambat laun terlepas satu per satu dari dinding kamar saya.
*
Kabar paling mengejutkan dan menyedihkan bagi saya datang di tahun 2012, dalam sebuah berita yang tak sengaja saya tonton. Westlife menyatakan membubarkan diri setelah konser terakhir mereka di Jakarta saat itu!

Kontan saja, memori era sembilanpuluhan hingga duaribuan yang menjadi masa-masa saya menyukai mereka, terekam lagi di ingatan. Saya pun mencoba melipur lara dengan mengunduh lagu-lagu mereka. Kesedihan saya sedikit sirna saat bibi saya memberikan satu folder lagu-lagu Westlife yang dimilikinya. Sejak saat itu, semangat saya untuk terus mencari lagu-lagu mereka meninggi. Ya, karena bisa dikatakan, lagu-lagu mereka adalah musik barat pertama yang sangat saya sukai, karena sebelumnya saya lebih condong pada musik Indonesia.
*
Beberapa minggu belakangan ini, rindu saya pada Westlife menebal. Itulah yang membuat saya menjadi hobi membuka Youtube, setelah awalnya hanya iseng memanfaatkan fasilitas Wifi untuk mengunduh salah satu album Westlife, Greatest Hits yang berdurasi dua jam lebih, yang saya ubah formatnya ke MP3.  Kemudian saya berhasil mengunduh delapan album Westlife yang lain, diantaranya Westlife, Coast to Coast, World of Our Own, Turnaround, Allow Us to Be Frank, Face to Face, Back Home, dan Where We Are.Tak lupa juga saya mengunduh album solo Shane Filan, You & Me, yang genrenya hampir senada dengan Westlife. Sayangnya saya masih kesulitan mendapatkan album Gravity, The Love, dan Unbreakable.
*
Westlife setelah Bryan hengkang
Berkat sembilan album ini, saya jadi makin tahu bahwa lagu-lagu Westlife sangat beragam. Dalam album Westlife, saya menemukan lagu What I Want is What I’ve Got. Mendengarkannya, membuat saya ingat bahwa lagu itu pernah menjadi musik pengiring modern dance teman-teman saat perpisahan kelas enam SD pada 2004 silam. Begitu pula beberapa lagu cover mereka, yang menjadi favorit saya adalah What About Now karya Chris Daughtry, To Be With You yang awalnya dinyanyikan Mr. Big, tembang Michael Buble Home, I’ll Be There karya Michael Jackson, juga lagu legendaris Nothing’s Gonna Change My Love For You.

Baru-baru ini, saya mengunduh videoklip Us Against The World, yang diambil dari album Back Home tahun 2007, yang mengisahkan perjalanan Westlife dari awal hingga masa-masa setelah Bryan keluar. Videoklip itu sempat membuat saya sedih, mengapa Bryan harus keluar, dan Westlife kini bubar.
*
Meski Westlife sudah bubar dengan menyisakan empat personil saat itu, tapi bagi saya, Westlife tetap terdiri dari Shane, Nicky, Kian, Mark, dan Bryan. Saya merasa, Bryan tetap menjadi bagian dari Westlife. Dan yang pasti, walau kini mereka telah memilih jalan bermusiknya masing-masing, Westlife akan selalu dirindukan.

Westlife tetap di hati, dulu, kini, hingga nanti…


Westlife, I have a question for all of you…
“Can you come back, as Westlife?”
I’ll keep hoping for that, and I wish this simple story can heal my longing to you…

Big thanks for these 13 years. You’re everlasting, you’re legend!
14 November 2014
Adinda R.D Kinasih
    




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama