Langsung ke konten utama

Ketahuilah, Kamu Belum Hilang dari Sini



Tengah malam memuram. Mata makin menajam, belum jua ingin memejam. 
Kubuka teras maya berdominasi putih biru dengan banyak tulisan itu, menelitinya sekilas-kilas dalam lekas. Tetiba, sepasang mataku terhenti di sebingkai potret mesra, dan seketika ia menggurat lara. 
Lalu, kejut menyambut, bersama sebaris ucapan selamat bernada riang, yang makin buatku tercengang.



Benarkah yang ditangkap mata ini? Kuyakinkan bahwa sepasang indera itu masih awas, masih jelas. 
Ya, berarti ini bukan dusta. Tapi entah mengapa, aku tak terlalu percaya.



Memang, kamu sendiri pun telah lama tak tersapa. Kalau kamu kira aku sudah bosan, sudah enggan, kamu salah duga. 
Kamu masih ada di sini, meski aku sudah jarang menghampiri. Kamu belum hilang dari sini, meski aku tak selalu kembali. 
Ketahuilah, jika rindu menyapa sewaktu-waktu, aku datang padamu. Bukan dengan langkah kaki, tapi lewat hati. Bukan dengan lambai tangan, tapi cukup lewat alunan.



Alunanmu masih tetap ada di luar kepala, efek terlalu seringnya dua telingaku dihibur olehnya. Ya, walau kuakui, kini sudah tak sering lagi aku melagukannya. Tapi, aku sama sekali belum bosan.

Dan setiap senyum yang kamu guratkan, masih selalu kubalas dengan harapan, bahwa kamu akan terus seperti itu…



Sekarang, aku makin ragu jika lembar gambar dan barisan ucapan itu adalah nyata.

Aku tak percaya…



Aku tahu, kamu bukan belah jiwa, tapi kamu telah menempati sebagian ruang itu.

Meski jauhnya jarak kita tak mampu kuretakkan,

Ketahuilah, kamu, bersama alunan dan senyuman itu belum hilang dari sini…

Dari hati…



Untuk Afgan, terimakasih atas barisan nada, tumpukan inspirasi, juga gulungan motivasi yang telah tersampaikan. Sejak lima tahun lalu, aku hanya mengenal dirimu yang itu. 
Hingga kini, dan kuharap sampai nanti.

29 Oktober 2014

Adinda R.D. Kinasih


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama