Langsung ke konten utama

Coretan Si Anak Magang (5)



Coretan si anak magang belum habis! Siap untuk membaca kisahnya sampai menangis? Hehehe, tidak, tidak. Saya jamin Pembaca semua tak akan tersedu, karena di sini ceritanya makin seru!
#

Rabu, 24 September, jadi hari pertama saya masuk di ruangan dengan beberapa kubikel ini, setelah dua hari sebelumnya saya habiskan di Referensi. Ruangan ini disebut Layanan Keanggotaan, atau lebih dikenal dengan lobi. Layanan ini bertugas melayani pengunjung yang ingin menjadi anggota Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Lobi ini terletak satu areal dengan Layanan Terbitan Berseri.

Kedatangan saya disambut ramah oleh Bu Ellys dan Mas Hanafi. Saya pun menempati “bangku sementara” saya, sebuah kubikel di sebelah Mas Hanafi.

Setelah itu, dua orang lainnya datang. Ada Mbak Ida dan Pak Purwodarsono, Kepala Bidang Layanan Informasi dan Kerjasama. Mereka juga menyapa saya. Pak Purwo, yang sudah mengenal saya sebelumnya sempat menawari sarapan. Saya hanya berterimakasih dan menolak halus, karena memang saya sudah sarapan.

Tak lama kemudian, wanita berjilbab hitam masuk, sambil menenteng tas plastik hitam. “Ayo…siapa mau coba kueku?”

Pertanyaannya langsung disambut beberapa orang yang mengerubungi salah satu bangku di mana kue itu diletakkan. Saya hanya melirik sekilas. Sebuah mika dengan brownies topping buah di dalamnya. Hmm….

“Wah, siapa nih yang ulangtahun? Ulangtahun melulu, deh!” seruan lelaki berkemeja batik, dengan kamera SLR tergantung di lehernya itu terdengar tiba-tiba. Ia ikut bergabung di kerumunan, melongok kue yang ada di meja. Candaan lain terlontar, menimpali ucapan lelaki yang ternyata bernama Mas Dwi, petugas di bagian Dokumentasi itu. Saya hanya tersenyum, kembali menghadap meja dan terdiam, bersama tas di pangkuan.

“Mbak, ini…dibagi dikit-dikit, ya!” saya terbelalak saat sepotong brownies mendarat mulus di meja saya beralaskan kertas. Buru-buru saya mengucap terimakasih pada Mbak Ida, yang memberikan kue lezat itu. Wah, hari ini saya mendapatkan sarapan tambahan, sepotong brownies dengan rasa unik, perpaduan manis pahit cokelat, lembut krim vanilla, serta asam manis jeruk dan kiwi.
 #

Setelah itu, saya mulai mengerjakan tugas pertama, menghitung jumlah bahan pustaka majalah dan tabloid yang masuk ke Perpustakaan Proklamator Bung Karno sepanjang tahun 2014. Dalam waktu kurang dari setengah jam, selesailah tugas saya. Kemudian, saya tak mengerjakan apa pun, karena memang belum ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan. Saya membisu sambil sesekali mengamati Mas Hanafi yang sibuk mengetik.

Seusai mengetik, ia mengajak saya berbincang. Ternyata, lelaki asal Yogyakarta ini adalah suami Mbak Amy, petugas di bagian Pengolahan. Kami saling bercerita banyak hal, seputar perpustakaan, musik, buku, bahkan keluarga. Saya juga menceritakan penyebab keadaan kaki saya.

Mas Hanafi juga berkisah, bahwa dulu ia adalah seorang pendiam yang selalu minder saat bertemu orang baru. Itulah sebabnya, ia enggan menjadi guru seperti permintaan ayahnya. Dia justru mengambil jurusan Perpustakaan di UIN Yogyakarta. Namun ternyata, sifat pendiam dan mindernya harus tetap dihilangkan, saat ia sempat menjadi tenaga Marketing di Jakarta selama dua tahun.

Beberapa saat kemudian, dialog kami diusaikan oleh kedatangan pengunjung yang ingin mengganti kantong kartunya. Saya membantu mengisikan data pengunjung itu ke kantong yang baru.
#

Tibalah waktu istirahat. Kali ini agak berbeda. Jika biasanya saya menuju Ruang Akuisisi untuk makan siang dan ke mushala bersama Bu Nurny, siang ini saya mendapat nasi kotak. Rupanya, ada salah satu pegawai yang sedang syukuran dan membagi-bagikan nasi kotak pada semua petugas, termasuk saya. Terpaksa, bekal yang saya bawa dari rumah tadi harus rela tak termakan. Setelah makan, saya menunaikan Dhuhur di bagian dalam lobi, atas saran Bu Ellys.

Setelah shalat, saya kembali ke “kubikel sementara” saya. Masih sama, tak banyak pekerjaan yang saya lakukan. Hanya ada dua pengunjung yang datang untuk mengganti kantong kartu, dan mendaftar menjadi anggota baru.

Jam dua siang, Pak Purwo, Bu Ellys, dan Mbak Ida menuju ruang rapat. Tinggallah saya bersama Mas Hanafi. Karena tetap belum ada pekerjaan lagi untuk saya, Mas Hanafi membolehkan saya membuka laptop. Saya menyempatkan diri menengok Facebook dan Blog saya dengan jaringan wifi di lobi.

Beberapa menit kemudian, buru-buru saya log out dari Facebook, karena belakangan saya tahu, membuka jejaring sosial pada jam kerja itu dilarang. Maaf ya, Bu Ellys…
#

Hari ini ada yang tak sama. Mas Hanafi ada tugas keluar kota. Jadilah pagi ini saya diam lagi, padahal sehari sebelumnya pasti saya sudah banyak bertukar cerita dengan Mas Hanafi. Saya pun menyibukkan diri dengan buku tulis dan pulpen, sekadar menulis rancangan untuk coretan ini, hehehe…

Pukul delapan tepat, Mas Hanafi datang dengan ransel berat di punggungnya. Ternyata ia dan beberapa orang lain yang mendapat tugas serupa, baru akan berangkat siang nanti. Kali ini kami tak bisa mengobrol banyak lagi, karena lelaki tigapuluh tahun itu sibuk mengurus kelengkapan surat yang akan dibawa keluar kota.

Sekitar jam sebelas, sekelompok orang yang bertugas keluar kota itu mulai bersiap. Termasuk Mas Hanafi dan Pak Purwo.
#

Setelah mereka berangkat, saya mulai menggarap tugas lainnya, yaitu memberi stempel pada kantong-kantong kartu yang baru jadi. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, 150 lembar kartu! Saya mengerjakannya, hingga tiba waktu istirahat. Saya pun rehat sejenak sambil melahap bekal saya. Rasanya sepi sekali makan siang hari ini, karena biasanya saya selalu makan siang sembari ngobrol dengan Bu Nurny di Ruang Akuisisi, atau bertukar kisah dengan Mas Hanafi seperti kemarin. Tapi hari ini, dua orang itu sama-sama ditugaskan keluar kota.
#

Setelah mengosongkan kotak bekal, saya shalat Dhuhur, masih di bagian dalam lobi. Baru saja saya menyelesaikan doa dan melipat mukena, terdengar suara Mbak Ida dan Mas Dwi, yang baru datang dari suatu urusan. Saya pun kembali ke meja saya.

Tanpa saya duga, Bu Ellys menyodorkan plastik mika sedang berisi siomay dan tahu goreng, lengkap dengan saus kacang dan sambalnya. Saya sudah menolak, tapi beliau tetap meletakkan makanan khas Jawa Barat itu di meja saya. Akhirnya, saya pun melahap salah satu makanan favorit saya itu. Ah…jika kemarin saya mendapat sarapan dan makan siang tambahan, hari ini saya kembali mendapatkannya. Terimakasih banyak, Bu Ellys…

Siomay pun tandas, bersamaan dengan sebotol air putih yang saya bawa dari rumah tadi. Saya pun kembali melanjutkan pemberian stempel pada kantong-kantong kartu yang masih tersisa. Syukurlah, pekerjaan itu bisa saya bereskan tepat jam setengah tiga.
#

Jumat ini, semestinya saya berpindah ke layanan lain. Tapi, atas saran Bu Ellys, saya baru akan pindah pada Senin esok. Jadilah hari ini saya kembali ke lobi. Setiap hari Jumat, para petugas perpustakaan melakukan senam di halaman. Untuk mengisi kekosongan, saya membuka laptop dan melanjutkan coretan ini.
#

Musik pengiring senam telah berakhir beberapa menit yang lalu. Saya menoleh pada Bu Ellys yang masuk lewat pintu belakang lobi, sambil membawa dua gelas kolak kacang hijau.

“Ini, Mbak, diminum ya!” begitu ucap beliau, seiring gelas plastik yang sudah berpindah ke meja saya. Saya tak bisa menolak lagi, dan akhirnya menikmati kolak kacang hijau bercampur ketela itu dengan sedikit sungkan. Aduh…sejak hari pertama di sini saya selalu diberi makanan. Terimakasih banyak, semuanya…
#

Hingga jam sebelas, pekerjaan untuk saya masih belum ada. Seperti biasa, waktu istirahat berdurasi dua jam di hari Jumat. Mbak Ida menyarankan saya menghabiskan waktu istirahat di ruang Layanan Anak Remaja, karena semua petugas Keanggotaan akan keluar kantor. Saya pun setuju dengan usul wanita berambut panjang itu.

Dalam langkah menuju ruang Layanan Anak Remaja, saya sempat berhenti dan berbincang sebentar dengan Pak Narto, salah satu satpam perpustakaan. Kemudian, saya meneruskan perjalanan ke ruangan berkarpet biru itu.
Sampai di sana, hanya ada Bu Min dan Bu Jerniati, yang sedang melepas lelah. Saya segera minta ijin untuk melahap bekal dan shalat Dhuhur di “surge kedua” saya itu. Beliau berdua membolehkan.

Setelah shalat, saya sempatkan membaca novel. Yaa…seperti biasa. Tanpa terasa, jam telah menunjuk angka satu lebih limabelas. Buru-buru saya rapikan semuanya, dan minta diri untuk kembali ke lobi.
#

Napas lega terhembus saat langkah saya mencapai lobi. Sudah ada Bu Ellys yang cukup sibuk di sana. Ah, rupanya sedang banyak pengunjung yang ingin mendaftar menjadi anggota. Saya segera meminta maaf atas keterlambatan saya, dan membantu Bu Ellys mengisikan data para calon anggota perpustakaan pada kantong kartu.

Eh, tiba-tiba pandangan saya tertuju pada gadis kecil yang melangkah mengikuti Bu Ellys. Lucu sekali dia, berbaju merah dengan pipi tembem dan rambut berkuncir dua. Tatapannya tertuju pada kaki saya, agak lama.

“Halo, Adek… namanya siapa?” dalam senyuman saya menyapanya. Tadinya, anak perempuan itu hanya terdiam sambil terus menatap saya.

“Eh, ditanya Tante tuh…” ucap Bu Ellys. Hingga akhirnya terdengar jawab lirih dari bibir mungil itu.

 “Mila…”

Saya pun tersenyum lagi. “Wah, Mila cantik ya. Kelas berapa nih?”

“Kelas lima.”

Saya agak terbelalak mendengarnya. Otomatis saya menoleh pada Bu Ellys yang tersenyum geli.
“Masih playgroup, Tante…”

Saya pun ikut tertawa kecil, kemudian kembali ke meja saya, meski belum ada pekerjaan lagi. Beberapa kali saya dengar rengekan Mila yang meminta ini itu pada bundanya. Saya tahu, jika Bu Ellys masih cukup sibuk, karena memang siang itu hanya ada Bu Ellys dan saya di lobi.
Saya pun mendekati Mila yang asyik memainkan penggaris di meja bundanya.

“Eh, Mila…ini jamnya Mila ya?” tanya saya sambil menunjuk jam tangan Angry Birds merah di meja. Gadis lucu itu hanya mengangguk.

“Buat aku, boleh?” goda saya kemudian. Kali ini Mila menggeleng. Saya tertawa pelan. “Oh ya, ini jamnya warna apa sih? Sama kayak bajunya Mila ya…”

“Pink,” bibir mungil itu melontarkan jawaban singkat. Saya tersenyum.

“Ini bukan pink, Sayang. Yang warnanya pink itu pensil ini,” ujar saya sambil menunjukkan pensil berwarna merah muda padanya. “Kalau baju Mila itu warnanya merah…”

Mata Mila membulat jenaka. Saya melebarkan senyum, lalu mengulang. “Warna apa, Sayang? Me…”

“Rah…” lanjutnya pelan. Saya lagi-lagi tersenyum mendengarnya. Sesaat kemudian, beberapa petugas dari bagian layanan lainnya berdatangan ke lobi dan mengajak gadis imut itu berceloteh. Tapi Mila tak terlalu menanggapinya.

Jam tiga, Mbak Ida datang. Saya pun pamit pulang. Sebenarnya saya ingin mengajak Mila foto bareng, tapi dia enggan. Saya bisa mengerti, mungkin si kecil itu sedang bad mood. Padahal sebenarnya saya ingin sekali berfoto bersamanya. Semoga suatu hari saya bisa bertemu Mila lagi.
#

Inilah akhir coretan sederhana saya tentang Layanan Keanggotaan. Tak ada kata yang paling tepat terucap, selain rasa terimakasih yang besar untuk Anda semua. 

Pak Purwo, terimakasih atas sapa ramah yang Anda berikan. Mas Hanafi, terimakasih untuk rangkum kisah yang tertuang selama sehari kemarin. Bu Ellys, terimakasih untuk segala bimbingan selama tiga hari ini. Mbak Ida, juga Mas Dwi, terimakasih atas candaan segar yang selalu berhasil menguarkan tawa saya. 
Oh, ya, terimakasih juga atas sepotong brownies, sepaket nasi kotak, seporsi siomay, dan segelas kolak kacang hijaunya.

Mohon maaf atas segala kesalahan saya selama berada di Keanggotaan. Maaf juga jika saya banyak merepotkan. Anda semua menjadi sebuah keluarga baru juga untuk saya.

Bu Ellys, salam untuk Mila ya. Semoga kapan-kapan saya bisa berfoto bersamanya…

26 September 2014
Adinda R. D Kinasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama