Langsung ke konten utama

Ketika Dua Stasiun TV ber-Hari Jadi

Sabtu, 23 Agustus lalu, ada yang berbeda pada malam hari milik RCTI. Jika biasanya rangkaian sinetron seperti Siti Bling-Bling, Tukang Bubur Naik Haji, Catatan Hati Seorang Istri, hingga Kita Nikah Yuk yang menghiasi, kali itu semua kisah absen tayang di layar kaca. Karena RCTI punya acara besar dalam rangka penggenapan usianya menjadi seperempat abad. Ya, Rajawali Citra Televisi Indonesia itu kini berusia 25 tahun!

Tak tanggung-tanggung, puncak acara ulangtahun RCTI kali ini dilangsungkan di Gelora Bung Karno, lengkap dengan pengisi acara artis-artis papan atas Indonesia, seperti Agnez Mo, Noah, Ungu, Mahadewa, JKT48, Kotak, Ayu Ting-Ting, juga para penyanyi jebolan talent search RCTI, seperti Regina, Nowela, Husein, dan Virzha Indonesian Idol, juga Fatin Shidqia dan Novita Dewi X-Factor. Dan yang paling membuat heboh adalah kehadiran salah satu ikon K-Pop dunia, Super Junior M.

Selama kurang lebih lima jam pertunjukan, yang dipandu oleh lima host ternama, Daniel Mananta, Robby Purba, Raffi Ahmad, Pica Priscilla, dan Dian Mirza itu berlangsung meriah. Para penonton, yang saya yakin didominasi oleh para ELF (Everlasting Friends), NEZinda Club, Fans JKT48, Sahabat Noah, Ungucliquers, juga Kerabat Kotak sangat antusias menyaksikan penampilan idola mereka masing-masing. Terlebih ketika boyband asal Korea itu tampil membawakan beberapa lagu mereka, juga menyapa para penggemar dengan sedikit berbahasa Indonesia. Keriuhan yang sama terdengar saat Agnez Mo, JKT48, dan Noah bernyanyi di panggung.

Selama lima jam konser itu, entah kenapa saya malah merasa bosan. Acara puncak yang telah digembar-gemborkan berminggu-minggu sebelumnya, dengan Suju M sebagai bintang tamu utama itu, tak membuat saya tertarik. Saya malah kangen dengan penampilan Noah, juga Fatin dan Husein. Noah pun berhasil memukau saya dengan beberapa lagunya, dan yang paling saya suka adalah Raja Negeriku, yang dikolaborasikan dengan Sahabat Noah Choir. Sementara, Fatin dan Husein hanya berkolaborasi dengan beberapa penampil lainnya saja, tidak terlalu menarik bagi saya.
 

Namun, ada yang membuat saya kaget juga. Malam itu, Mahadewa, grup band bentukan Ahmad Dhani, membawa Virzha Idol sebagai vokalis, bukan Judika seperti biasanya. Apa benar jika Virzha telah menjadi vokalis baru Mahadewa? Saya juga tak tahu pasti. Penampilan menarik Mahadewa adalah ketika mereka berkolaborasi dengan Al Ghazali, putra Ahmad Dhani, membawakan lagu Pupus. Suara Al ternyata merdu juga.
Hal unik yang ada dalam perayaan hari jadi RCTI ini, adalah ketika JKT48 membuat formasi huruf RCTI di ujung acara, yang kemudian ditutup dengan letusan kembang api aneka warna di langit Jakarta.

Kesimpulan yang bisa saya ambil, puncak 25 tahun RCTI tidak semenarik yang dipromosikan. Ya, karena saya sama sekali tak paham dengan K-Pop, dan bisa dikatakan, acara itu seperti milik Suju M, sementara artis-artis Indonesia yang lain hanya menjadi pelengkapnya. Ketika menonton Suju M, saya malah merindukan Westlife, boyband Irlandia yang berjaya di era 90-an. Sayang sekali kini mereka sudah bubar. Mungkin, jika mereka yang diundang ke puncak HUT RCTI, itu akan lebih menarik bagi saya. Mengapa tak sebaiknya undang saja banyak artis Indonesia, dari yang legenda hingga yang baru terkenal, dengan berbagai genre, dan kesemuanya dikolaborasikan. Pasti akan lebih menarik dan terasa berbeda. Selain itu, host yang dipakai pun terlalu banyak. Setidaknya dua host pria dan satu host wanita saja sudah cukup.
*
Semalam, 24 Agustus, juga menjadi hari spesial bagi SCTV. Stasiun TV yang usianya setahun lebih muda dari RCTI ini, menggelar perayaan 24 tahunnya di Istora Senayan, dengan para bintang tamu yang “lebih Indonesia”. Sebut saja, Iwan Fals, Afgan, Gita
Gutawa, Bunga Citra Lestari, Yovie Nuno, Kahitna, Geisha, Armada, Setia Band, Wali, SM*SH, Cherrybelle, juga sederetan penyanyi dangdut. Tak ketinggalan, Agnez Mo juga didapuk jadi penampil di HUT SCTV ini.
Acara berdurasi lima jam ini masih didominasi para fans Agnez Mo, dan juga para OI (Orang Indonesia), sebutan bagi para penggemar Iwan Fals. Tak lupa, para pemain sinetron Ganteng-Ganteng Serigala, juga menghadirkan sebuah drama musikal.

Sama seperti ketika ulangtahun RCTI, di ulangtahun SCTV ini sebenarnya saya pun tak begitu antusias. Seperti yang sudah bisa diterka, saya hanya menunggu penampilan Afgan, juga Yovie Nuno, Kahitna, dan Iwan Fals.
Tapi kemudian, saya merasa bosan juga, karena deretan artis yang saya tunggu tadi tak kunjung unjuk gigi. Malah drama musikal GGS yang dihadirkan lebih dulu. Akting Kevin Julio, Jessica Mila, Ricky Harun, juga Aliando dan Prilly yang meriuhkan penonton, bagi saya justru biasa saja. Itu pula yang akhirnya membuat saya mengganti channel.

Senyum saya baru terbit saat Hedi Yunus, Carlo Saba, Mario Ginanjar, Dikta, Windura, juga Yovie Widianto, hadir di panggung bersama BCL. Mereka menggabungkan beberapa lagu Kahitna dan Yovie Nuno, yang sudah lama tak saya dengar dari televisi. Cukup bisa mengobati rindu saya. Kira-kira, setengah jam kemudian, giliran solois favorit saya sejak 2009, Afgan, yang berjas pink dan menampilkan tembang Katakan Tidak, lengkap dengan iringan dancer.

Lalu? Kembali lagi GGS yang mendominasi panggung. Baiklah, kembali saya ganti salurannya. Ayah saya pun tak sabar menunggu penyanyi favoritnya, Iwan Fals. Maklum saja, legenda Indonesia satu ini sudah jarang tampil di TV.
Akhirnya, lelaki bernama asli Virgiawan Listanto ini telah duduk di tengah panggung, lengkap dengan gitar di pangkuannya. Seketika, suara penonton makin ramai, seiring ayah saya yang mengeraskan volume TV. Saya hanya tersenyum-senyum melihat keasyikan ayah menonton aksi Iwan Fals.
Setelah bersenandung beberapa lagu, Iwan menyudahi penampilannya malam itu. Saya dan ayah pun memutuskan mematikan TV. Dan rupanya, saya harus ketinggalan penampilan Afgan yang berduet dengan Gita Gutawa, membawakan Mantan Terindah. Ah…ya sudahlah.

Secara keseluruhan, puncak ulangtahun SCTV ini cukup bagus. Kolaborasi yang ditampikan juga beragam dan menghibur. Menurut saya, kekurangannya hanya pada jumlah host yang terlalu banyak dan pada konsep acara. Drama musikal GGS terkesan diulur-ulur dan dilebih-lebihkan. Apalagi bagi saya, yang tak terlalu paham dengan alur ceritanya.
*
Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangannya, semoga dua stasiun TV yang sama-sama ber-hari jadi di tanggal 24 Agustus ini makin bisa kreatif dalam menampilkan program-program bermanfaat, inspiratif, dan menghibur bagi semua kalangan.
Selamat ulangtahun, SCTV dan RCTI. Kalian adalah satu untuk semua yang semakin oke!

25 Agustus 2014
Adinda Dara
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama