Langsung ke konten utama

When 2012 Will be Leave...

Entahlah... Sore ini sepertinya diwarnai kelabu. Seluruhnya... 
Tak terasa, 2012 akan segera berganti, pergi... 
Ada banyak kisah tertoreh pada tiap lembar 2012. Ada tawa membahana, ada pula airmata tertumpah....

Bagiku, 2012 adalah tahun penuh kejutan. Keajaiban. Petualangan. Apa saja...
Aku takkan merunut kisah sejak Januari. Aku hanya akan menuliskan sekelumit saja. Meski sebenarnya setiap bulan dalam 2012 penuh kesan.

2012, terimakasih. Karena di tahun inilah aku bertemu dengannya lagi, setelah sekian lama sosoknya hanya tergambar dalam bayang. Aku sendiri masih heran, mengapa sepertinya tiap tahun yang kulalui selalu tak jauh-jauh darinya...

Ah, biarlah. Sekarang aku hanya bisa pasrah. Tak ingin lagi memaksa diri. Biar waktu yang berkuasa penuh kali ini...

2012, terimakasih atas kesempatan yang kudapat untuk menyusuri Malangku sendirian. Meski hanya dua hari saja, tapi tak apa. Dua hari yang penuh pengalaman dan inspirasi.
Takkan pernah hilang dari ingatan, obrolan di depan Rektorat kampus dan di kafe itu...Bersama para manusia luarbiasa...

2012, terimakasih atas keyakinan yang makin bertumbuh dalam jiwa. Kekuatan yang makin terbangun dalam raga. Dalam Desembermu, aku berhasil menjelma. Menjadi Adinda yang lain. Yang jauh lebih berani. Lebih "ngengkel".

Akhirnya, perubahan itu pun membuahkan hasil. Pertama kali menyambangi Eco Green Park Batu Malang, saat kalender menoreh angka 24, menyusuri tiap sudutnya dengan takjub. Di sinilah aku sadar dan percaya, bahwa segala sesuatu pasti berhikmah...
Menanti e-bike seharga seratus ribu untuk jangka waktu tiga jam, dan e-bike itu telah ludes terpakai semua.
Maka, kakikulah yang kupercaya menopangku berdiri, seiring ayunan langkah khas penuh semangat yang kadang tertatih, berhias peluh, desah napas terengah, dan itu semua memaksaku berhenti sejenak tiap kali bertemu bangku. Bahkan kiranya sebotol air mineral seliter pun belum cukup sembuhkan dahaga. Apalagi kaki yang makin terasa nyeri, tulang-tulangnya seperti hampir patah semua.

Tapi segalanya dapat sirna oleh senyum legaku. Tak kusangka, aku sanggup sekuat ini. Ini sangat luarbiasa bagiku. Sepertinya ini pertama kalinya kuandalkan sepasang kaki ini untuk menelusuri tiap setapak yang berkelok, berkerikil, berpasir, licin, turun, naik itu sendirian. Sendiri....

Dan untuk pertama kalinya, bila boleh kukatakan.... "Aku hebaaaat!"
Inginnya mengulang itu semua...lagi....

Semoga 2013 berkenan berikan lagi kesempatan....

Tak disangka, second chance was come! Adanya kesempatan kedua ini begitu kupenuhi lantunan tahmid. Alhamdulillaaaaah...

Tepat, saat angka 26 tertulis pada kalender Desemberku. Saat itu pula, mungkin untuk pertama kalinya juga, aku berani dan bisa mendebat orangtuaku. Demi kesempatan yang sangat langka...
Terimakasih pada adikku dan para sepupuku, yang membantuku meraih kesempatan ini....

 Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku...

Tiba-tiba, alunan intro piano dan sebait lagu itu menjadi sangat lekat dengan kalbuku akhir-akhir ini. Semua berawal dari malam itu. Malam itu, usai Maghrib, mobil segera membawaku dan para sepupu menuju Kediri. Tanpa orangtuaku. Hanya ada paman dan bibi...
Dan 19.30 membawa langkahku tertatih ragu saat akan menaiki tangga berjalan. Bagiku tangga itu horor. Berkali-kali kucoba ayunkan kaki agar bisa melompati pembatasnya, tapi kaki itu mendadak membatu. Kaku.
Ah, Tuhan...ternyata aku belum sehebat itu...

Tapi tangga berjalan itu bukan penghalang bagiku untuk bisa sampai pada tempat yang kutuju. Untung ada petugas keamanan yang bersedia menghentikan laju tangga itu. Dan kakiku pun berolahraga lagi...
Setelah tangga berjalan, ada lagi beberapa undakan tangga manual yang harus kulalui. Ah, peluh, lagi-lagi.. Tapi tak apa. Ayolah, don't give up! Sekarang belum waktunya mengucap kata itu!

Usai. Segera kumasuki ruangan yang asing. Terselimuti kegelapan. Hanya ada sebuah layar lebar di depan sana yang menjadi satu-satunya sumber cahaya. Kuturuni beberapa undakan pelan-pelan, hingga akhirnya bisa terduduk nyaman di salah satu bangku.

Ah, kisahnya sudah berjalan sebagian... Jam-jam berjalan, dan aku masih terus merunut segala detil kisah mengharukan itu. Terkadang diiringi tawa, lalu diam dalam ketakjuban, kemudian senyap dalam kesedihan yang menerjang tiba-tiba...

Habibie dan Ainun....

Sungguh, sejak awal aku menyaksikan kisah abadi ini, rasa kagumku pada Reza Rahardian juga mulai muncul. Sebegitu menghayatinya ia saat menjelma menjadi Habibie. Begitu pun Bunga Citra Lestari, yang sangat memukau sebagai Ainun...

Hingga hampir memasuki akhir cerita, dan lagu tema itu pun mulai diperdengarkan. Lagu yang dinyanyikan merdu oleh Bunga Citra, lagu yang menjadi saksi kisah cinta Habibie dan Ainun...
Saat itu pula airmata mulai membasah di wajahku....

Sampai akhirnya kisah itu benar-benar berakhir. Lampu bioskop dinyalakan, dan terlihat jelas wajahku yang dibanjiri airmata, diselingi isak. Kutundukkan sejenak wajahku demi menghalau malu. Sejenak lalu kuhapus hujan di wajahku...

Langkahku menuju parkiran makin tertatih, makin tak enak dipandang mata. Sepertinya seluruh tulang kakiku kram, dan hampir lepas. Bahkan ibu jari kaki kiriku pasti sudah membengkak sekarang... Hufft...

Tapi aku sangat gembira, dan kembali berterimakasih tak terhingga pada 2012...
Tahun yang menakjubkan untukku...

And now, when 2012 will be leave, will be change to 2013... Ada banyak harapan membuncah dalam jiwa. Namun, hanya akan kutulis dalam sebuah kalimat di sini....

Semoga di 2013, aku bisa menjadi lebih kuat, mandiri, yakin, rajin belajar, dan makin produktif menoreh tiap kisah....
Amiiin.....

Sekali lagi, terimakasih 2012, dan selamat datang 2013... Semoga segala harap dan citaku dapat terukir manis dalam tiap lembaranmu....



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama