Langsung ke konten utama

Untukmu, Sahabat...

Tak perlu dengar kata mereka
Teruslah berjalan....
-Peterpan, Melawan Dunia-

 Beberapa malam ini aku hanya terpaku, terbisukan waktu. Menghadapi teka-teki tiap orang yang bertubi-tubi datang padaku. Ada banyak yang kuterima belakangan ini. Pujian, teguran, penghakiman, bahkan makian, seakan sangat berhasil mendera diri.

Ada teka-teki rumit yang disuguhkan seorang sahabat, sejak beberapa hari lalu. Karena sakit mendadak yang menyerang sang ayah, memaksanya menjadi pribadi 'berbeda'. Sebuah keterkejutan bagiku. Dan harus memaksaku kepo dan berkata, "Ada apa denganmu?" 
Hahaha, layaknya Ariel saja....

Tapi akhirnya, kekagetan itu berangsur jadi sebuah kepahaman. Setidaknya, berusaha mengerti dengan keadaannya sekarang, yang memaksanya berubah. Aku bukan siapa-siapanya yang harus ikut repot dengan segala keputusan yang ia ambil. Itu hidupnya....
Hanya cukup kudoakan saja....

Hanya saja, sebuah penghakiman tiba-tiba datang, layaknya sebuah bom membumihanguskan tembok pikiranku. Apalagi ini? Diriku sudah berulangkali berseru, bahwa ia sama sekali tak suka dengan segala bentuk penghakiman, dari siapa pun!
Namun, aku hanya bilang padanya, inilah hidup, yang segalanya takkan pernah mulus...

Penghakiman itu darinya, sahabatku...
Dia bilang, my life was better than hers. Semua yang kuinginkan, ada. Segala yang kubutuhkan, tersedia. Bahasa gampangnya, tinggal perintah, datang!

Aku kaget! Bagaimana bisa dia berkata begitu? Bagiku, setiap orang punya perjuangannya sendiri-sendiri. Everyone has their own struggling. Mungkin baginya, mudah berkata-kata. Namun, aku yang jalaninya merasa tak segampang itu.

Dia, di mataku hampir sama. Dia, bagiku, juga punya hidup yang mudah. Dia, dengan sejarah lahir dan kondisi fisik yang nyaris sama sepertiku, bisa jauh lebih tangguh menjalani hidup. Dia jauh dari keluarga sejak SMP. Sudah pernah ke mana-mana. Batu Secret Zoo, Coban Rondo, bahkan Bromo, dan Jakarta pernah dijelajahinya.
Sedangkan aku? Bisa main ke mall di Malang saja sudah untung. Apalagi seperti kemarin, saat langkah-langkahku menyusuri tiap sudut kampus UIN, menyeberang jalan, naik len, numpang travel... Hanya itu saja, namun itu sudah extraordinary bagiku...

Bukan... Bukannya aku tak mensyukuri hidupku. Tapi ada setitik keinginan untuk bisa 'menjelajah dunia' seperti dia juga...

Dan kini, aku kehilangannya lagi.... Dia sudah menjelma, berbeda....

Namun, kata-kata ibuku semalam seolah mengurai semuanya...
Bahwa aku seharusnya tak semudah itu berpikiran jelek tentang pernyataannya kemarin. Seharusnya ada rasa syukur tercurah, karena masih ada orang lain yang mau memberi sebuah penilaian untuk diriku dan hidupku. Apa pun itu...
Lanjut ibu, aku pun seharusnya mengerti dengan keadaannya, keacuhannya kini, meski itu buatku makin cemas. Dia pasti lelah, seharian duduk di tepi ranjang, menunggui orang tercintanya yang terbaring di sana...

Maafkan aku, sahabat....

Tanpa pedulikan kata mereka
Kita berjalan melawan dunia...

Layaknya dia, yang kini sudah bosan dengan ceracauan, dengan segala kisah yang hanya bisa dilisankan. Dia kini adalah dia yang makin ingin melangkah ke depan, menatap bayang hidup lebih jauh. Melawan dunia.
Dia yang sekarang adalah dia, dengan dunianya sendiri...
Dan jujur, aku merindukannya....

Dan mungkin, aku juga akan menyegerakan itu... Seperti kamu...
Melawan dunia.....
Semoga aku bisa...

Dan semoga Allah segera mengangkat sakit yang diderita ayahmu, amiiin...
Aku rindu kamu, sayang kamu sahabat...
Maafkan aku....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Tanggal di Agustus (2)

Maaf, baru hari ini saya meneruskan catatan ini. Empat tanggal di bulan lalu masih berlanjut. Di bagian kedua ini, tanggal istimewanya adalah Rabu, 5 Agustus 2020. Masih seputar konser virtual, kali ini diselenggarakan oleh kanal YouTube Halaman Musik Rieka Roslan . Siapa yang tak kenal Rieka Roslan? Salah satu vokalis  band The Groove ini juga menjadi solois dan pelatih vokal untuk para peserta di sebuah ajang pencarian bakat. * Menuju puncak, gemilang cahaya Mengukir cita seindah asa Menuju puncak, impian di hati Bersatu janji kawan sejati Pasti berjaya di Akademi Fantasi... Masih ingat lagu ini? Ya, di medio 2003-2006, lagu ini terputar di sebuah stasiun teve setiap minggunya.  Ya, inilah Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Saya adalah salah satu penonton setia ajang pencarian bakat ini kala itu. Sejak musim pertama hingga keempat, saya selalu punya jagoan masing-masing. * Di musim pertama, jagoan saya adalah Dicky (Surabaya), Romi (Bandung), Kia (Jakarta), Rini (Jakarta), da

Setiap Keberuntungan Punya Pemiliknya Masing-Masing

2 Juni 2018. Tanggal yang mungkin takkan pernah saya lupa seumur hidup saya. Mengapa? Tak perlu saya tuliskan lagi di sini, sebab semua sudah saya abadikan pada sejumlah tulisan, juga cerita lisan yang diulang-ulang. Namun, tanggal itu pulalah yang membuat batin saya campur-aduk. Gembira, bersyukur, tak menyangka, sekaligus menyesal dan merasa tinggi hati. *** Ya, sesaat saya merasa telah menyombongkan diri. Pertemuan tak terduga dengan penulis itu memang istimewa; tapi mungkin opini itu hanya berlaku untuk saya dan segelintir orang saja. Sisanya? Tak menutup kemungkinan, ada yang memendam iri, lalu bertumbuh jadi prasangka dan benci. *** Belakangan saya sadar, pertemuan itu hanya sebagian kecil dari "keberuntungan" saja. Lalu apa manfaatnya mengulang-ulang cerita yang telah diunggah ke tiga situs berbeda? Saya merasa bersalah. Memang tak ada salahnya membagi berita bahagia di segala macam sosial media. Tapi saya lupa, jika tak semua orang ikut senang dengan berita bahagia ya

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama