Tiga Hari Saja; Terkenang Selamanya (2)

Inginku kembali
Ke masa yang lalu
Bahagianya dulu
Waktu kecilku...
-Dian Pramana Poetra




Sabtu, 29 Juni 2024

Sekejap Resepsi
Pagi tiba, saya bersiap segera. Setelah sarapan dan mandi, taksi online pun lekas dipesan.

Saya menuju hotel tempat Ajeng menginap bersama sebuah city car putih. Driver-nya tak henti bicara banyak hal.

"Saya bercanda, Mbak. Nggak pernah jadi sopir ambulans, kok."

Lelaki muda itu mengklarifikasi apa yang ia tulis dalam chat aplikasi ojek. Saya tertawa.

"Saya itu kemarin habis antar penumpang ke Surabaya, Mbak. Ya ampun, panas banget di jalan. Saya sampai tiga kali berhenti, beli es teh di warung. Sekarang jadi pilek."

Ia melanjutkan ceritanya. Saya menimpali dengan bertanya, mengapa ia tetap mengambil orderan hari ini.

"Yaa, mau gimana lagi Mbak... cicilan banyak, hahaha."

Obrolan berakhir saat mobil terhenti di depan hotel. Ajeng, Kak Didi, dan Dylan yang sudah menunggu pun segera masuk ke mobil.

Tujuan berlanjut ke sebuah hotel kecil di kawasan Jalan Kalimantan. Di sanalah lokasi acara pernikahan Dimas.




Ajeng nampak cantik dengan busana bernuansa pink dan jilbab senada. Kak Didi berkemeja lengan panjang, baju yang dibeli dadakan semalam di toko Pelangi. Sedangkan si kecil Dylan mengenakan kemeja batik hitam.

Sesampainya di lokasi bernama Hotel Permai itu, kami segera naik ke lantai dua. Suasana riuh dan cukup padat. Setelah menuju pelaminan, bersalaman, dan berfoto sejenak, kami segera beranjak.

Tak langsung pulang, saya mengambil kursi kosong di sudut, dan duduk sebentar sambil meneguk air putih. Begitu juga Dylan. Sedangkan Kak Didi mengambil seporsi es krim di sebuah stan. Ajeng tidak memakan apapun. Masih kenyang, katanya.

Tak lama kemudian, kami melambaikan tangan pada kedua mempelai dan mohon diri.

***

Masa Kecil, Kami Kembali!
Ajeng menggandeng saya melintasi jalan raya yang cukup ramai. Di depan kami, ada Kak Didi yang menggamit tangan Dylan. 

"Kemarin itu, pas ke SDI aku cuma lewat doang, Dind. Nggak bisa masuk, soalnya ada perbaikan jalan."

Saya teringat kata-kata Ajeng sore itu. Ternyata ia belum sempat napak tilas, hanya bisa mengabadikan gambar bangunan sekolah kami itu dari seberang jalan.




Maka, inilah kejutannya! Siang ini, mari kita ke sana! Meski gerbang utama tertutup, ada pintu kecil yang tetap dibuka, untuk akses keluar masuk kuli bangunan.

Sekolah ini memang sedang berada dalam proses renovasi, karena ada beberapa ruangan yang terdampak kebakaran beberapa bulan lalu.

Melihat pintu kecil yang terbuka, saya dan Ajeng kegirangan seketika. Kami lekas memasuki halaman.




Rasa nostalgia dan haru menyeruak dalam dada saya. Hal yang sama dirasakan Ajeng, meski ia hanya menuntut ilmu di sini selama dua tahun saja.

Dengan kamera ponsel dan kamera mungil milik Kak Didi, kami menjepret banyak foto. Pasangan ini juga mengabadikan sejumlah momen berdua yang dijepret Dylan lewat ponsel.

Rasa syukur melimpah ruah hari ini. Jika saja Ajeng tak main ke Blitar, mungkin saya takkan pernah mengunjungi sekolah ini lagi.

***

Kami kembali menumpang taksi online dan menuju hotel. Ajeng mengajak saya singgah sebentar di tempatnya menginap.
Ada banyak cerita lagi, bersama televisi yang menayangkan Doraemon, kartun favorit Dylan.

Saya juga sempat minum susu cokelat dari Warung Susu Mak Tam. Ternyata enak juga. Saya sudah tahu warung ini sejak lama, tapi masih ragu tiap akan memesan.




Perut keroncongan menandai jam makan siang. Kami beranjak dari hotel dan menuju sebuah restoran bernama Warung L├Ęko. Spesialis Iga Bakar, begitu yang tertulis dalam plang.

Namun, saya memilih seporsi nasi bersama lalapan, jamur krispi, dan sambal. Tak lupa es teh tawar.




Sedangkan Ajeng memesan seporsi tahu telur tanpa nasi. Inilah yang membuat saya membagi nasi menjadi dua bagian, lalu memaksanya makan. Hehehe.

***

De Classe Gelato menjadi destinasi selanjutnya. Namun, hanya saya dan Ajeng yang bertandang ke sana. Dylan dan Kak Didi memilih kembali ke hotel lebih dulu, sebelum menjemput Ajeng sore nanti.

Saat inilah keinginan saya terwujud. Mengajak Ajeng mencicipi gelato terenak di kota ini. Wanita cantik ini memilih rasa durian dan cokelat untuk ia nikmati.




Kami mengambil tempat di dekat jendela. Duduk berhadapan dan mulai merunut cerita, lagi. Ada saat-saat saya menangkap sosok Ajeng dalam lensa kamera ponsel. Berbalut baju kasual seperti ini saja, dirinya masih secantik itu di mata saya.




Rangkaian cerita berakhir saat Kak Didi dan Dylan tiba di kafe. Saya pun segera mohon diri, sebab masih ada satu lagi momen penting yang harus dihadiri sore ini. Pernikahan Andhira dan Huda.

Tapi, tiba-tiba setitik sedih muncul dalam benak. Tak terasa, esok akan segera tiba. Ajeng akan kembali ke Bekasi...[]

Blitar, Juni 2024
Adinda RD Kinasih


Posting Komentar

0 Komentar