Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2020

Terimakasih 2020 : A Little Throwback Note

Pagi terakhir di 2020. Saya memandangi kalender meja beberapa saat usai mematikan lampu tidur. Tak terasa, esok tahun telah berganti. Dan 2020 telah menorehkan banyak kenang, baik yang penuh tawa, atau sarat airmata. Bagi saya pribadi, 2020 memberi banyak pelajaran, pengalaman, juga "memaksa" terbiasa melakukan rutinitas yang asing untuk saya sebelumnya. Contoh paling sederhana, memakai masker dan membawa hand sanitizer ke mana pun. Keharusan berdiam di rumah awalnya tentu aneh dan menjenuhkan. Apalagi buat saya, yang hanya punya kesempatan keluar rumah di akhir pekan. Tapi, lambat laun saya mulai bisa terbiasa. Berusaha mencari hiburan untuk diri sendiri. 2020 membuat saya akrab dengan Netflix, Disney+ Hotstar, juga sejumlah platform yang adakan konser musik daring. Menonton konser Afgan, juga AFI Reunion lewat live-streaming pun terwujud tahun ini, justru saat harus berdiam di rumah. Meski akhirnya saya tak hanya berada di rumah. Momen keluar rumah saya diawali dari

Membuka Kembali Enam Tahun Merah Putih : Kejutan dari Sebuah Pesan

"Can you take me back when we were just kids Who weren't scared of getting older? 'Cause no one knows you like they know you And no one probably ever will You can grow up, make new ones But the truth is That we grow up, then wish we could go back then There's nothing like old friends 'Cause you can't make old friends..." -Old Friends, Benjamin Rector Kedai Sade, pukul 11 siang. Saya naik tangga dengan agak susah payah, sebelum menerima dua uluran tangan. Satu milik gadis barista yang saya belum tahu namanya. Satu lagi miliknya. Sejenak mata saya terbelalak, namun kemudian menyipit seiring senyum yang terbit di balik masker. Sesaat kemudian, kami sudah duduk berhadapan. Di hadapannya ada pai keju yang tinggal sepertiga, juga segelas Americano yang sudah tak penuh lagi. Saya menyesali keterlambatan yang hampir satu jam ini. Maafkan, yaa... * Namanya Tios Marhenes. Kami berkawan baik di masa SD, dan sempat satu sekolah di SMP, meski berbeda kelas.

Cerita Kedai Kopi (4) - Sade : Teh dan Kopi

Rasa penasaran saya akan tempat ini berawal dari sebuah akun Instagram. @sade.blt namanya. Hanya ada sebuah foto di daftar postingannya, bertuliskan "coming soon." Akhirnya, rasa penasaran itu berakhir pada Senin, di ujung Nopember. Tempat ini merayakan buka perdananya. Seluruh menu bisa dinikmati dengan 10 ribu rupiah saja. Saya tiba di sana tatkala malam hampir menggantikan senja. Senyum terbit di balik masker, seiring Mbak Na yang berdiri menyambut. Menunjukkan kursi kosong untuk saya tempati, juga sodorkan buku menu. Tadinya saya enggan memesan lebih dulu, namun kemudian mata saya tertarik pada menu bernama Nob-Nob . Ya, secangkir espresso hangat. Untuk camilannya, saya menjatuhkan pilihan pada sepotong pai keju. Tak lama berselang, kawan saya muncul dengan gamis dan jilbab hitamnya. Sweater rajut biru tak lupa dikenakan demi halau dingin dari gerimis yang menyapa. Setelah bersapa sejenak, ia segera menuju meja kasir untuk memesan. Sepotong kue red-velvet bersama