Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Terimakasih Kalian - Sebuah Catatan tentang KMCS

Sejak awal, tujuan Ruparasa dibangun adalah untuk berbagi sedikit cerita tentang kehidupan saya. Ya, cerita sejak lahir, seputar kondisi kaki saya, juga bagaimana saya menjalani kegiatan sehari-hari, seperti bersekolah dan berteman. Lalu, muncullah ide membuat satu rubrik baru bernama KMCS (Kata Mereka, Celoteh Saya). Berisi cerita-cerita ringan saya tentang sejumlah orang yang pernah dan masih mewarnai hidup. Agak berbeda, saya pun menambahkan sedikit pendapat mereka tentang saya. Tak terasa, KMCS telah masuk bagian kesepuluh. Ada lima sahabat lelaki dan lima sahabat perempuan dengan ragam kisahnya yang menarik. Terimakasih untuk kalian semua; Ajeng Nur Indah Sari, Fitriara, Arsylia Imasiwa, Nezli Rohmatullaili, dan Alfa Anisa. Juga untuk kalian; Ananta Yogi, Dimas Fanny, Mas Burhanuddin Muhammad Yusuf Annuri, Irsyadul Ibad, serta Kak Ahmad Fahrizal Aziz. Terimakasih telah menjadi bagian dari rubrik KMCS, dan telah bersedia membagi pendapat-pendapat jujurnya tentang saya. D

Kata Mereka, Celoteh Saya (10) - Ahmad Fahrizal Aziz

"Dinda itu terlalu bawa perasaan, lebay, gampang lupa, kurang percaya diri, kurang ekspresif, namun berhati lembut dan mau terus belajar." -Kak Fahri Saya tertawa; benar-benar tertawa, saat membaca kalimat di atas. Tidak mengira dia akan berkata begini. * Mengenalnya sejak akhir 2007, saya tidak menyangka masih bersahabat baik dengannya hingga kini. Kami diperkenalkan oleh ekskul Jurnalistik di MAN Kota kala itu. Dia adalah kakak kelas saya, sama-sama ada di jurusan Bahasa. Kami juga cukup sering mengobrol di depan kelas sepulang sekolah. Ada banyak hal yang mengisi bincang kami ketika itu. Seputar Jurnalistik, dunia tulis-menulis, buku, musik, film, juga mata pelajaran hari itu. Karena jurusan kami sama, mata pelajaran yang diajarkan pun juga sama, meski berbeda tingkatannya, tentu saja. Paling sering kami mengobrol tentang pelajaran Sastra dan Bahasa Inggris. Kebiasaan berbincang itu masih terbawa hingga sekarang. Meski tak sesering dulu, karena kesibukan mas

Masa Sekolah (6) - Perguruan Tinggi

Sejak lulus dari MAN tahun 2010, orangtua saya menyarankan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka. Universitas ini adalah yang pertama di Indonesia yang menerapkan sistem belajar jarak jauh. Universitas ini ada di seluruh Indonesia, dan berpusat di Tangerang. Sistem belajar jarak jauh ini ditempuh lewat internet dan modul, yang dapat dibeli secara online , kemudian dikirim lewat pos. Dalam laman resmi UT, tersedia sejumlah fitur, seperti ruang diskusi antar mahasiswa, penugasan, pengumuman nilai ujian, majalah kampus, dan radio streaming . * Saya mendaftar di Universitas Terbuka Malang jurusan Sastra Inggris Penerjemahan. Entahlah, mungkin memang minat saya pada Bahasa Inggris masih tetap ada. Jika dihitung-hitung, masa belajar di UT hanya selama tiga bulan, kemudian langsung ujian akhir semester. Bentuknya adalah ujian tulis, dan dilaksanakan pada hari Minggu. Mengapa? Sebab, mayoritas mahasiswa UT adalah mereka yang juga bekerja. Ada yang menjadi guru, karyawan, dan

Kata Mereka, Celoteh Saya (9) - Irsyadul Ibad

"Aku menerima Mbak Dinda sebagaimana adanya, sama seperti yang lain. Jadi aku tidak bisa menilai positif-negatifnya orang." -Irsyad Balasan itulah yang saya terima saat memintanya sebutkan dua kalimat tentang saya. Meskipun begitu, saya akan tetap menuliskan ini buat dia. Saya mengenal Irsyad di FLP Blitar, sekitar awal tahun 2016. Melihatnya pertama kali, ia terlihat cuek dan pendiam. Tapi sebenarnya, itu hanya kesan awalnya saja. * Seorang Irsyad adalah humoris, dan punya pemikiran dewasa dan jauh ke depan, padahal usianya beberapa tahun lebih muda dari saya. Dia berbakat di dunia desain dan menggambar. Dia juga piawai menulis cerpen. Ide-idenya brilian, pemilihan katanya juga bagus. Satu lagi, lelaki yang biasa saya sapa Ibad ini juga menguasai dua jenis alat musik, yaitu gitar akustik dan piano. Dia pernah mengirim file mp3 permainan pianonya pada saya. Saat itu, dia memainkan salah satu lagu Yiruma. * Ada satu momen tak terlupakan buat saya. Kalau tak sa

Kata Mereka, Celoteh Saya (8) - Dimas Fanny Hebrasianto

"Dinda itu overthinking dalam hal apapun, dan suka nggak enakan sama orang. Tapi dia punya ambisi dan tekad kuat untuk sesuatu yang ingin diraihnya." -Dimas Saya mengenalnya sejak SD, saat kelas empat. Tapi, saya tidak terlalu dekat dengannya saat itu. Saya justru lebih sering ngobrol dengannya sejak 2016. Dimas adalah seorang unik yang suka bulutangkis, animasi, novel fantasi, dan naik kereta api. Sejumlah gunung pernah didaki, beberapa pantai disinggahi. Rasa cinta pada alam dalam dirinya pun sudah terbukti. * Lelaki yang memfavoritkan Duo Minions alias Kevin-Marcus ini menyelesaikan pendidikan Teknik Informatika jenjang D4-nya di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), dan di ITS Surabaya untuk S2-nya. Dia juga sempat menjadi dosen di salah satu universitas di Blitar. Jujur saja, saya agak tidak menyangka. Sebab, seingat saya, dulu saat di SD Dimas cukup sering diusili oleh Gilang, meski dia berani membalas. Tapi kini, boleh dikatakan, Dimas adalah sala

Masa Sekolah (5) - Sekolah Menengah Atas

Masa putih abu-abu saya lewati di sebuah sekolah bernama MAN Kota Blitar. Jujur saja, awalnya saya terpaksa masuk ke sekolah ini. Entah kenapa. Tapi akhirnya saya jalani saja. Dan ternyata, sekolah ini memberikan banyak warna dan cerita yang tak pernah saya duga sebelumnya. Saat kelas sepuluh, saya ada di kelas H. Tak terlalu banyak teman yang saya ingat di sini. Ada Diana, Evi, Sapto, Dwi Wisnu, Ishomudin, dan lainnya. Sungguh, saya lupa. Maafkan. * Jelang kenaikan kelas sebelas, saya sudah memutuskan akan masuk jurusan mana. Tak lain tak bukan, Bahasa. Ya, jurusan yang konon tak banyak diminati ini. Dua tahun berada di kelas ini memberi kesan tersendiri buat saya. Di kelas ini saya kembali bertemu Anis Nur Hidayah. Tak hanya itu, ada Like Fitria dan Yuni Azizatul juga. Bangku saya dulu adalah di ujung kiri, samping jendela dan di depan meja guru. Saya sebangku dengan Like. Sedangkan Anis dan Yuni bertempat di bangku belakang kami. Selain Anis, Like, dan Yuni, teman-teman l

Kata Mereka, Celoteh Saya (7) - Burhanuddin Muhammad Yusuf Annuri

"Adinda Rahma Dara Kinasih adalah seorang adik imut, ramah, dan manis. Pekerja keras tanpa rasa peduli rasa lelah di tubuh, walau di hati terkadang pernah juga menyerah. Adik manis yang selalu butuh dukungan dari orang-orang yang dirasa nyaman untuk diajak berbagi dan senasib. Tak peduli kata orang, itulah yang selalu ada dalam pikirannya. Namun terkadang selalu kepikiran dengan perkataan orang tentang dirinya. Dinda harus tetap semangat dengan kondisi kaki yang sekarang, karena Dinda masih bisa bebas berjalan tanpa bantuan kruk." -Mas Aan * Namanya cukup panjang; Burhanuddin Muhammad Yusuf Annuri. Panggil saja dia Aan. Dia adalah putra Dokter Chandra Kusuma, dokter yang menangani saya sejak lahir hingga balita. Saat kecil, saya mungkin pernah bertemu dengannya. Tapi sungguh, saya lupa. Kami justru dipertemukan lagi sekitar tahun 2013, lewat direct message di Twitter. Bagaimana awal temu itu? * Beberapa waktu sebelumnya, ibu saya sempat bertandang ke rumah Dokt

Masa Sekolah (4) - Sekolah Menengah Pertama

Masa SMP saya lewati di Madrasah Tsanawiyah Negeri Blitar di kawasan Karangsari. Sejujurnya tak terlalu banyak yang bisa saya ingat dari masa ini. Maka, saya akan coba menuliskannya seingat saya. * Di kelas tujuh, saya masuk kelas E. Di sekolah ini, kelas E, F, G, H, dan I adalah kelas khusus perempuan. Konon, kelas E adalah kelas unggulan yang menjadi anak-emas para guru. Jujur saja, saya sendiri tak tahu mengapa bisa masuk ke kelas E. Saya rasa, saya tak terlalu pas untuk masuk ke sana. Teman dekat saya di kelas ini adalah Anis Nur Hidayah. Anis inilah yang pertama kali menginspirasi saya menulis. Di jam istirahat, dia gemar menulis cerpen, novel, dan puisi. Ada buku-buku tulis yang khusus ia sediakan untuk ini. Berawal dari menjadi pembaca, kemudian saya ikut menulis juga. Ingin tahu cerita apa yang pertama kali saya tulis? Tentang para akademia AFI 2005! Hahaha. Kala itu, saya memang ngefans berat dengan salah satu finalisnya yang bernama Bojes. * Di kelas delapan, s

Kata Mereka, Celoteh Saya (6) - Ananta Yogi

"Tidak banyak yang bisa diingat, tapi Dinda kecil dulu cerewet juga, ternyata." -Ananta Yogi Namanya Yogi. Dalam ingatan saya, ia adalah lelaki kecil yang gesit. Kami sempat sekelas saat bersekolah di RA Perwanida. Kemudian, saat masuk SD, ada teman saya yang bernama Yogi juga. Saya sempat agak rancu saat itu. Apakah ini Yogi kawan saya di TK atau bukan. Ah, daya ingat saya cukup payah, rupanya. Tapi akhirnya saya pun sadar, ini dua Yogi yang serupa tapi tak sama. Yang satu bernama Ananta Yogi. Satunya lagi Yogia Gusti Yahya. Nah, kawan saya di TK adalah Ananta Yogi. * Saya bertemu lagi dengan Yogi justru saat masuk SMA di MAN Kota Blitar. Tapi di sini kami berbeda jurusan. Saya di Bahasa, dan dia di IPA. Saat angkatan saya dulu, kelas Bahasa dan IPA letaknya bersebelahan. Walaupun begitu, kami malah tak pernah menyapa. Kalau diingat lagi sekarang, lucu juga. Teman lama, tapi justru tak saling sapa. Padahal saya tahu dan ingat, kalau dia adalah Yogi teman saya d

Kata Mereka, Celoteh Saya (5) - Alfa Anisa

PEREMPUAN YANG MENCINTAI BUKU (untuk Mbak Dinda) Barangkali aku mengenalnya hampir lima tahun, lebih atau kurangnya bisa ditanyakan pada kalender yang setia mencatat setiap pertemuan. Kurang ramah dan cuek sudah terlalu lama menghuni sekujur tubuhku, mungkin memang sifat itu terlahir dari cerita-cerita novel yang kubaca sejak Tsanawiyah. Dia datang terlambat, tapi senyumnya bertebaran kepada orang-orang yang hadir. Duduk di sampingku, menyapa ramah. Aku hanya senyum basa-basi karena benar-benar tak bisa menumbuhkan ramah yang terlanjur diusir trauma. Bukankah aku menulis ini karena permintaan kebaikan dan keburukan. Jadi baiklah mulai fokus kepada tiga hal dari masing-masing permintaan. Perempuan itu baik. Mencintai dan merawat buku-bukunya yang berjajar rapi di rak kamar. Aku tak selalu memiliki buku baru, hanya mengandalkan kuis dan gratisan buku terkadang pemberian teman. Tapi, perempuan itu menawarkan buku-bukunya untuk kubaca di rumah. Terbitan baru pula, nikmat mana yang b

Saya dan Musik

Entah kenapa, saya dan musik seperti elemen tak terpisahkan. Mendengarkan lagu sudah menjadi rutinitas. Bisa dibilang, hampir semua kegiatan yang saya lakukan diiringi lagu-lagu. Atau, bisa juga dengan suara saya yang pas-pasan, hahaha... Mungkin ini bukan tanpa sebab. Dahulu, selain menjadi guru Kesenian, ayah saya adalah penyiar radio di dua tempat berbeda di Malang. Yakni di Radio TT-77 dan Puspita FM. Saya kerap mendengarkan suara ayah siaran. Semacam pengantar tidur. * Program yang disiarkan ayah saat itu adalah Konci (Konsultasi Cinta) dan Tersuci (Terminal Surat Cinta). Ya, program yang banyak dinanti para remaja di masanya. Oleh sebab itu, lagu-lagu yang di- request pendengar pun adalah lagu bertema cinta. Salah satu yang paling banyak diminati adalah karya Kahitna. Maka, sudah bisa diterka. Lagu yang cukup sering saya dengarkan adalah milik band asal Bandung ini. Tak heran, saat guru di Playgroup dulu meminta saya menyanyi di depan kelas, lagu Cerita Cinta -lah ya