Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Masa Sekolah (3) - Sekolah Dasar

Enam tahun Merah Putih saya jalani di sebuah sekolah bernama SDI Kardina Massa, di Jalan Kalimantan. Saya mulai masuk SD di usia 6,5 tahun, kalau tidak salah di 1998. Kawan-kawan di masa SD inilah yang paling saya ingat. Sebab, kami sempat bertemu lagi di Lebaran tahun 2012. Beberapa dari mereka menyempatkan ke rumah saya. Setelah itu, ada beberapa kali lain kami bertemu, di sejumlah acara. Selain itu, saya masih menyimpan sebuah diari berisi biodata mereka semua. Ada pula satu lembar yang memuat tanggal ulangtahun mereka semua. Dulu, menulis biodata adalah kegembiraan tersendiri. Selalu ada pulpen warna-warni dan aneka model tulisan. Pokoknya kami berlomba menuliskan biodata seindah mungkin, hahaha... * Bicara masa SD adalah salah satu masa yang penuh warna juga bagi saya. Ada bermacam reaksi dari teman-teman terkait kondisi kaki saya. Ada yang selalu sabar menemani dan membantu saya, juga menunggui saya. Karena saat SD dulu saya lamban sekali dalam melakukan banyak hal ya

Kata Mereka, Celoteh Saya (4) - Arsylia Imasiwa

"Yang kutahu, Dinda itu selalu menebar aura positifnya. Sepertinya orang yang di dekatnya akan ketularan bahagia. Tapi, kalau mau ketemu dia harus janjian dulu, kayaknya." -Arsylia Dia adalah salah satu kawan yang paling saya ingat namanya. Bagaimana tidak, namanya memang indah sekali. Arsylia. Nama yang secantik orangnya. Arsyl adalah teman saya sejak duduk di bangku TK. Sayangnya, daya ingat saya lemah dalam memilah memori masa TK saya bersamanya dulu. Pokoknya yang paling saya ingat adalah nama dan wajahnya. * Arsylia sempat dua kali menuju rumah saya. Yang pertama, lupa kapan tepatnya. Sudah beberapa tahun lalu. Saat itu, dia datang bersama keluarganya. Sayang sekali, saya sedang ke Malang. Yang kedua, kalau tidak salah setahun atau dua tahun lalu. Sore itu, sekitar pukul tiga, ia mengetuk pintu rumah saya sembari mengucap salam. Saya tak mendengarnya sama sekali, karena tengah dibuai mimpi. Ah, sayang sekali. Untuk sedikit melipur rasa bersalah, saya lekas m

Terimakasih, Cecep Reza

Siapa tak kenal bocah lelaki gendut usil yang kerap punya akal untuk mengganggu saudara tirinya ini? Ah, ya mungkin kalian lupa. Biar saya tulis dulu namanya. Bombom. Dan saudara tirinya bernama Lala. Bagaimana? Sekarang sudah ingat? Nama aslinya Muhammad Syariful Zanna. Tapi ia lebih dikenal dengan sebutan Cecep Reza. Akting apiknya sebagai Bombom di sebuah sinetron tahun 2000-an lalu sempat melambungkan namanya. Selain itu, ia pun sempat bermain dalam sinetron Pesantren & Rock 'n Roll season 3, di tahun 2013. Setelah itu, ia jarang sekali muncul di televisi. Mungkin hanya ada sejumlah interview dari program infotainment, yang menanyakan kabar dan kesibukannya kini. Rupanya, ia kini menjadi fotografer, sudah menikah, dan punya seorang putri berusia empat tahun. * Sekitar seminggu yang lalu, sebuah berita yang berasal dari sejumlah media online mengejutkan saya. Mereka menuliskan, Cecep Reza telah wafat. Kabarnya karena serangan jantung. Awalnya, saya tak percaya,

Cinta yang Utuh: Seorang Cerebral Palsy Takkan Bisa Mandiri

Judul : Cinta yang Utuh Penyusun : Yudhi Dzulfadli Baihaqi Penerbit : DAR! Mizan Tahun Terbit : 2007 Tebal Buku : 185 hlm Sejak lama, saya meyakini bahwa hidup adalah sebuah pengembaraan, pencarian, sebuah "soul searching". -dari Cinta yang Utuh, halaman 10 Buku ini sudah cukup lama ada di rak buku saya. Ayah yang memberikannya, sebagai hadiah ulangtahun ke-16, tahun 2008 lalu. Ya, buku ini sudah 11 tahun berada di sini. Cinta yang Utuh berisi pengalaman manusia-manusia istimewa, dengan kondisi fisik beragam. Kondisi fisik yang menurut sebagian besar orang berbeda, yang lazim disebut cacat. Ada banyak kondisi yang dikisahkan di sini. Ada seorang tunarungu, tunanetra, tunawicara, juga ada yang kakinya terserang polio hingga ia harus memakai kursi roda. * Tapi, ada satu kisah yang menyita perhatian saya. Bernama Faisal Rusdi, seorang pelukis penderita cerebral palsy. Cerebral palsy yang ia alami agak berbeda dengan saya. Selain harus memakai kursi roda, k

Masa Sekolah (2) - Taman Kanak-Kanak

Masa Taman Kanak-Kanak (TK) saya dimulai jelang akhir tahun 1996. Kala itu, saya baru pindah ke Blitar. Saya masuk ke Raudhatul Athfal (RA) Perwanida Blitar, yang terletak tak jauh dari Kantor Departemen Agama Kabupaten Blitar. Pelajaran di TK ini hampir sama dengan masa Playgroup. Mungkin, perbedaannya hanya lebih diintensifkan untuk belajar membaca dan menulis. Tak lupa, hafalan surat-surat pendek, doa sehari-hari, juga sejumlah hadits. Ada pula materi membuat prakarya, misalnya meronce atau melipat. Beruntungnya, saya memiliki guru dan teman-teman yang baik. Dua guru kelas saya saat itu adalah Bu Enggal dan Bu Anis. Saat materi belajar di luar kelas, saya pun ikut serta. Tentunya didampingi dua guru kelas kesayangan tersebut. Saya pun beruntung punya banyak teman yang baik. Ada beberapa dari mereka yang masih saya ingat, yakni Hafizha Ramadhani, Claudia Diba, Arsylia Imasiwa, Rochma Al Bestary, Yusrina Syifa Halista, dan Ananta Yogi. * Ada satu kejadian lucu yang masih

Kata Mereka, Celoteh Saya (3) - Nezli Rohmatullaili

"Mbak Dinda itu baik banget, tapi kadang ngeselin dan terlalu spontan." -Nezli Mengenalnya pertama kali di FLP Blitar, kalau tak salah tahun 2016. Lucu dan polos, itu kesan pertama saya saat melihatnya. Gaya bicaranya khas dan selalu berhasil mengundang gelak tawa saya.  Tak disangka, gadis ini penggemar sepakbola, juga novel-novel terjemahan. Tak heran, gaya bahasa dan tulisannya pun tak jauh-jauh dari situ. Tak ketinggalan, bakat merajutnya juga patut diperhitungkan. Beberapa kali saya memesan hasil kreasinya. Tak hanya merajut, kadang ia juga membuat pembatas buku. Baru-baru ini, ia membuat snack bouquet untuk temannya yang wisuda. Sungguh, kreatif sekali. Di balik wajah imut dan tingkah polosnya, gadis kelahiran Januari ini pun pernah berada di titik terendah. Sang Ayah wafat saat ia masih duduk di bangku SMP. Kini ia tinggal berdua bersama sang Ibu. Dan kemudian, saya pun bisa melihat sisi-sisi kedewasaan dari dalam dirinya. Terimakasih untuk keceriaan dan kep

Masa Sekolah (1) - Playgroup

Masa sekolah saya diawali dari sebuah Kelompok Bermain (Playgroup) bernama Hidayatul Mubtadi'in. Sekolah ini terletak di Jalan Danau Maninjau Selatan Dalam, Blok D1-c19, Sawojajar. Ya, sekolah ini masih berada satu perumahan dengan rumah saya. Ibu yang mengantar saya setiap hari, dengan naik sepeda. Saya bersekolah di sini sejak bulan September 1995 hingga Juni 1996. Pada masa itu, pelajaran di sekolah ini cukup beragam dan mengasyikkan. Ada materi mewarnai, menggambar bentuk, kolase, melipat, bernyanyi, menari dengan iringan musik, berhitung menggunakan tiga bahasa, senam, berenang setiap Jumat atau Sabtu, dan tentunya juga menulis huruf hijaiyah, serta hafalan doa-doa dan surat pendek. Di masa PG ini, saya hanya sanggup mengais sepotong-sepotong memori. Dulu, kalau tak salah, saya belum terlalu kuat berjalan sendiri, jadi Ibu lebih sering menggandeng saya menuju ke kelas. Ibu Guru juga kerap membantu. Untunglah, teman-teman dan para guru sangat baik dan bisa menerima kondis

Kata Mereka, Celoteh Saya (2) - Fitriara

"Mbakdins itu nyebelin kalau lagi maksa-maksa, kadang suka plin-plan kalau pas pesan makanan. Tapi romantis." -Fitriara Saya pertama kali bertemu dengannya di event launching buku Antologi Cerpen Jejak-Jejak Kota Kecil . Kala itu, ada sebuah kuis sederhana. Dia berhasil menjawab satu pertanyaan, dan mendapat hadiah sebatang cokelat. Cokelat itulah yang saya beli beberapa jam sebelumnya, dan memang untuk doorprize . Siapa sangka cokelat itu jatuh ke tangannya. * Kemudian, dia pun sempat ikut pula ke acara talkshow bersama Asma Nadia di IAIN Tulungagung. Lalu entah bagaimana, hingga kami bisa sedekat ini sampai sekarang. Bertemu Ara-begitulah gadis ini biasa saya sapa, seperti jadi rutinitas saban akhir pekan. Kadang kami bertandang ke kafe yang baru buka di kota ini. Tapi lebih sering menuju beberapa kafe yang sudah pernah didatangi. Biasanya karena ada promo, atau memang sedang ingin ke sana. * Apa yang bisa saya lukiskan tentang seorang Fitriara? Dia adalah g

Kata Mereka, Celoteh Saya (1) - Ajeng Nur Indah Sari

"Dinda itu inspiratif, selalu dipenuhi hal positif, selalu bersyukur, dan suka berteman. Tapi masih mudah dipengaruhi dalam beberapa hal." -Ajeng Saya tidak mungkin lupa sosok gadis hitam manis berkepang satu itu. Sapa dan senyum ramahnya begitu membekas di ingatan, meski ia tak terlalu menghabiskan banyak waktu di kota ini. Kami dipertemukan oleh sebuah sekolah yang sama, di masa Sekolah Dasar. Saat itu, dia cukup sering main ke rumah saya. Meski akhirnya ketika kenaikan kelas 2, dia harus pindah sekolah ke Jakarta. * Tak diduga, jumpa kembali saya dengan teman-teman di SD saat Lebaran 2012 lalu, turut membawa cerita tentangnya. Dan akhirnya, di bulan Desember 2013, Ajeng benar-benar datang ke rumah saya bersama teman-teman yang lain. Tak disangka, ia makin cantik saja. Seharian itu kami bersama-sama pergi ke sejumlah tempat, sejak pagi hingga malam. Tak lama selepas pertemuan itu, dia menikah. Ada dua teman SD saya yang menuju Bekasi demi dapat hadir di hari bahag

Cerita Kedai Kopi (1) - Lojikopi

Tiap Ahad, sepulang dari Perpustakaan Bung Karno atau lokasi temu rutin lain, saya kerap menuju kafe atau kedai kopi. Biasanya bersama teman-entah janjian bertemu di sana, atau berboncengan ke sana. Kadang juga sendirian. Kadang, saya bisa mengunjungi kedai yang sama dua hingga tiga kali. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya. Misalnya karena kenyamanan tempat, atau sedang ada promo tertentu. Atau bisa juga karena itu kafe terdekat yang dapat dijangkau dari titik keberangkatan saya. * Kali ini, saya akan membahas Lojikopi. Berlokasi di Jalan Anjasmoro nomor 49, kafe berarsitektur vintage-modern ini menawarkan suasana rumahan yang asyik untuk tempat ngobrol. Tak lupa, dengan iringan lagu-lagu hits terkini. Lojikopi menawarkan aneka menu andalan. Ada beragam varian kopi, tentunya. Seperti kopi hitam yang diracik dengan sejumlah metode, americano, cappuccino, mochaccino, latte, dan lainnya. Selain itu, ada pula greentea, es kopi susu aren, es cokelat, juga beberapa varian teh. A

Terapi dan Alat Bantu (Part 2.2-habis)

Saat duduk di bangku SMA, saya pun sempat mencoba terapi lain. Metodenya adalah pijat tradisional disertai obat herbal. Terapisnya bernama Pak Rasyid. Kala itu, kira-kira beliau berusia separuh abad lebih sedikit. Bibi saya yang pertama kali mengenal beliau, lalu menyarankan saya untuk datang ke sana. Praktik terapi itu dilakukan di rumah beliau di kawasan Landungsari, Malang. Selama sesi terapi, Pak Rasyid-yang kerap menyebut dirinya Pakdhe, terus mendorong saya untuk berlatih di rumah. "Terapi dan obat-obat ini adalah cara Pakdhe membantumu. Selebihnya, dirimu sendiri juga berusaha." ujar beliau kala itu. Obat herbal beliau berbentuk pil bulat berwarna hitam, berbau khas, dan rasanya pahit sekali. Selain itu, seingat saya, ada ramuan dedaunan yang dibalurkan ke kaki saya setiap malam. * Entahlah, tapi saat itu saya merasa, terapi ini membawa perkembangan. Kekakuan kaki saya sudah cukup berkurang. Saat berjalan pun sudah terasa lebih ringan. Tapi, beberapa bul

Terapi dan Alat Bantu (part 2.1)

Ada beberapa jenis terapi yang pernah saya jalani, dari usia balita hingga SMA. Semuanya memiliki metode dan jenis obat yang beragam. Kali ini, saya akan membahas terapi pertama. * Menurut cerita Ibu, ketika saya memasuki usia lazimnya bayi merangkak, saya justru tidak merangkak. Menurut perkiraan dokter anak yang menangani saya saat itu, mungkin saya memang tidak melewati fase merangkak. Dokter itu pun menyarankan untuk berkonsultasi pada dokter rehab medis. Sembari menunggu, beliau memberi saya sejumlah vitamin. Singkat cerita, bertemulah saya dengan dokter rehab medis tersebut. Namanya Bu Andri Wijayanti. Awalnya, terapi dilakukan di RS Saiful Anwar, Malang. Hingga akhirnya terapi berlanjut di rumah beliau. Rupanya, beliau tinggal di perumahan yang sama dengan saya, hanya berbeda blok saja. loading... * Saya menjalani terapi ini sejak balita hingga SMP kelas dua. Pada tahun 1996, saya dan kedua orangtua pindah ke Blitar. Namun terapi tetap berlanjut. Metode yang di

Harus Disebut Apa?

"...Because I never see you as a different person." -A Friend "Kak, kakinya kenapa?" Tanya itu terlontar dari mulut seorang anak lelaki berusia sekitar lima tahunan, saat berpapasan dengan saya di sebuah pusat pertokoan beberapa tahun lalu. Mendengarnya, saya sedikit terhenyak. Baru kali itu ada yang menanyakan itu pada saya. Biasanya anak-anak hanya akan mengarahkan tatapan aneh pada saya. Malah ada pula yang menirukan cara berjalan saya. Tapi yang ini agak berbeda. "Jatuh, Dek." jawab saya sembari tersenyum. Anak itu melongo sejenak sebelum berlalu. * Jawaban di atas tentu saja bohong. Saya tidak mungkin menjelaskan pada anak kecil itu tentang sebab kondisi kaki saya. Saya lahir prematur di usia kandungan 6,5 bulan, 27 tahun lalu. Itu menyebabkan kaki dan tangan kanan saya tak sama dengan yang kiri. Kaki kanan saya jinjit, sedangkan tangan kanan menjadi kaku. Itulah sebabnya saya kidal sejak kecil. Lalu, disebut apakah kondisi fisik sa